DAUD YANG SOMBONG


Pengantar :

Kata "sombong" mungkin tidak tepat dilekatkan kepada diri Daud, hamba Tuhan yang selalu dipuji-puji-Nya. Namun, dipuji Tuhan tidak berarti tidak memiliki kelemahan. Sama seperti Abraham ketika ia dua kali "menjual" istrinya, kepada Firaun dan Abimelekh. Tuhan tidak mencela Abraham, tetapi justru membelanya di hadapan kedua raja itu. Dalam hal itu, perbuatan Abraham adalah dosa yang tidak dikehendaki Tuhan. Bagaimana halnya dengan Daud dan kesombongannya?

Pada suatu waktu, ketika Raja Daud telah mengalahkan semua musuh-musuhnya, ia menyuruh Yoab, panglimanya, menghitung seluruh jumlah tentara Israel. Pada mulanya, Yoab enggan melaksanakan tugas itu sebab ia tahu bahwa hal itu merupakan kejahatan di mata Tuhan. Walaupun begitu, Yoab terpaksa melaksanakannya sebagai tanda kepatuhan terhadap perintah raja. Setelah penghitungan selesai, hati Daud berdebar-debar. Ia pun segera mengakui kesalahannya dan meminta ampun kepada Tuhan.

Namun, semua itu sudah terlambat. Penghitungan sudah selesai dilaksanakan. Akibat perbuatan Daud itu, Tuhan murka kepada umat Israel dan membunuh 75.000 dari mereka dalam waktu tiga hari, sesuai dengan apa yang dinubuatkan oleh Nabi Gad kepada Daud.


Sebuah Keangkuhan Tersembunyi:

Mengapa Daud dianggap jahat dengan menghitung tentaranya?
Memang kalau sekadar menghitung bukan kejahatan. Namun, Tuhan melihat hati Daud yang mengandung sebuah kejahatan. Untuk mengetahuinya, konteks saat Daud menyuruh Yoab harus dicermati.

Pada waktu itu, Daud telah mengalahkan semua musuh-musuhnya. Musuh terakhir yang dikalahkannya adalah bangsa Filistin (2 Samuel 21:15-22). Setelah itu, Daud praktis tidak mengalami perlawanan dari siapa pun. Daud kemudian mengucap syukur atas kemenangan-kemenangan itu dengan menggubah sebuah mazmur (2 Samuel 22:1-51).

Namun, rasa syukur Daud itu kemudian berubah 'menjadi sebuah kesombongan. Ia merasa bahwa kemenangan-kemenangan yang diraih bangsa Israel selama itu adalah karena kekuatan tentaranya, yang notabene, di bawah pelatihan dan kepemimpinan Daud. Betul bahwa Daud berperan besar dalam memimpin dan melatih tentaranya itu. Namun, semua itu karena Tuhan yang meng anugerahkannya. Kesombongan yang tersirat itulah yang dilihat Allah sehingga Daud dianggap berbuat jahat.

Timbul pertanyaan, mengapa watak sombong Daud itu baru kelihatan di masa tuanya? Bukankah Daud seorang hamba Allah yang sangat dikasihi-Nya, bahkan telah dipilihnya secara khusus sebagai raja umat Israel? Bukankah Allah telah menetapkan bahwa Sang Mesias (Yesus) akan datang dari keturunan Daud? Bukankah Allah yang memelihara dan melindungi Daud dari kejaran Saul selama kurang lebih lima belas tahun? Jadi, mengapa tiba-tiba Daud memiliki watak yang sangat sombong, yang berakibat tewasnya 75.000 orang Israel yang tidak bersalah?


Borok yang Terpendam:

Sebenarnya watak sombong itu sudah ada sejak lama, hanya barangkali Daud kurang menyadarinya. Simak peristiwa berikut yang terjadi jauh sebelum ia menjadi raja.
Pada suatu waktu, ketika Saul mengejar-ngejar Daud, Daud dan enam ratus orang pengikutnya sedang berada di daerah penggembalaan Nabal, yaitu di Karmel. Nabal, yang juga satu marga dengan Daud, yaitu Yehuda, tinggal di Maon. Ia seorang kaya yang memunyai 3000 ekor domba dan 1000 ekor kambing, serta perusahaan pengguntingan bulu domba di Karmel. Ia adalah keturunan Kaleb.

Selama Daud dan pasukannya berada di sana, para penggembala Nabal tidak pernah diganggu mereka. Bahkan, mereka dilindungi dari para perampok atau penjahat sehingga mereka merasakan ketenangan selama pasukan Daud ada di sana.

Pada suatu saat, Nabal pergi ke Karmel untuk menggunting bulu domba. Daud kemudian menyuruh sepuluh orang ke sana untuk meminta sedekah karena mereka memang sedang kesulitan makan karena dalam pengejaran Saul. Namun, ternyata Nabal menolak, bahkan memfitnah Daud dengan kata- kata seolah-olah Daud tidak setia kepada tuannya, Saul, yaitu melarikan diri.

Hal itu membuat Daud sangat marah. Tanpa terkendali Daud langsung menyuruh pasukannya untuk membawa pedang. Bahkan, tanpa berpikir panjang, Daud telah bersumpah di hadapan Tuhan untuk membunuh Nabal dan seluruh anggota keluarganya yang laki-laki. Kalau seandainya Abigail, istri Nabal, tidak datang lebih dahulu kepada Daud dengan membawa sekadar oleh-oleh dan meminta maaf atas perilaku bebal suaminya, Daud tentu akan membunuh mereka semua.

Setelah Abigail datang dan sujud menyembah Daud, sadarlah Daud bahwa ikhtiar yang ada dalam benaknya itu hanyalah merupakan akibat dari kemarahan. Namun, Daud barangkali tidak menyadari bahwa sikapnya itu merupakan tanda-tanda kesombongan. Ia merasa bahwa keadilan ada di tangannya, mendahului keadilan Tuhan. Memang sikap Nabal yang bebal itu sungguh jahat dan tidak tahu berterima kasih, tetapi sikap Daud itu juga tidak berkenan kepada Tuhan.

Sekarang dapat ditarik simpulan bahwa sesungguhnya Daud memiliki watak atau sifat yang terpendam, yaitu kesombongan. Jadi, perbuatan Daud menghitung tentara Israel beberapa puluh tahun kemudian sebenarnya merupakan pemunculan watak lamanya yang rupanya kurang disadarinya. Sebelumnya, Daud belum pernah dihajar Tuhan karena kesombongannya itu.

Kekurang-waspadaan Daud akan sifat sombongnya itu telah memberikan jalan bagi si Jahat untuk merongrong kehidupannya. Biasanya manusia kurang waspada jika tidak memiliki pergumulan hidup. Daud tidak luput dari sifat itu. Ketika Daud sudah mengalami kemenangan demi kemenangan melawan musuhnya, praktis semua musuhnya sudah takluk, muncullah sifat keangkuhannya. Si jahat lalu memanfaatkan sifat kesombongan itu dengan membujuk Daud untuk menghitung pasukan (1 Tawarikh 21:1). Dalam hal itu, Daud merasa bahwa kemenangan atas musuh-musuhnya itu disebabkan pasukannya yang banyak dan kuat (apa yang dialami Daud itu mirip dengan pengalaman Petrus yang didalangi Iblis untuk menolak perkataan Yesus bahwa Ia harus mati disalibkan).

Namun, dari pihak Tuhan, Ia tentu tidak membiarkan Iblis mempermainkan Daud hamba yang dikasihi-Nya. Oleh sebab itu, rencana si Iblis yang hendak menghancurkan Daud, justru dimanfaatkan Allah demi kebaikan Daud sendiri yang sampai sejauh itu kurang waspada atau kurang menyadari titik terlemahnya, yaitu berwatak sombong.

Sebagai hamba Tuhan yang luar biasa, tentu sifat Daud itu sangat membahayakan dirinya. Oleh sebab itu, ketika si Iblis hendak menjatuhkannya, Tuhan mengizinkannya terbujuk untuk menghitung pasukan. Namun, Tuhan tidak mengizinkan Daud jatuh tergeletak. Tujuannya adalah agar Daud menyadari sepenuhnya kalau sesungguhnya ia masih memiliki karakter yang harus diubah. Tanpa kesadaran itu, sifat sombong itu akan menjadi borok dalam diri Daud, yang semakin membesar dan sewaktu-waktu dapat menghancurkan dirinya.

Itulah sebabnya, laporan penghitungan pasukan itu agak berbeda pengalimatannya dalam 2 Samuel 24 dan dalam 1 Tawarikh 21. Dalam 2 Samuel 24, dilaporkan bahwa Allah yang membujuk Daud untuk menghitung pasukan itu. Dalam 1 Tawarikh 21, justru Iblis yang dilaporkan membujuk Daud untuk menghitung pasukan. Jadi, laporan mana yang benar dari kedua kitab itu? Jawabannya adalah kedua-duanya benar.

Setelah penghitungan itu selesai, Daud yang hati nuraninya sangat peka terhadap bisikan-bisikan Roh Allah langsung menyadari bahwa ia telah berdosa. Tuhan saat itu tentu telah mengampuni Daud. Namun, pengikisan kesombongan itu harus sampai ke akar-akarnya, harus melalui suatu penghajaran yang agak keras. Ibarat sebuah penyakit borok di dalam tubuh, penyakit itu tidak dapat disembuhkan tanpa pembedahan. Pembedahan memang sakit, tetapi dengan demikian penyakitnya dapat diangkat ke luar.

Ketika Allah menawarkan satu pilihan dari tiga perkara ya.ng akan menimpa diri Daud dan umat Israel, ia cukup bijaksana untuk tidak memilih salah satu dari ketiga perkara itu, tetapi menyerahkan sepenuhnya. kepada otoritas Tuhan. Daud sadar bahwa Tuhan itu baik. Ketiqa perkara itu adaiah kelaparan akan menimpa umat Israel selama selama tiga bulan akan dikejar-kejar oleh musuh-musuhnya, atau akan terjadi penyakit sampar selama tiga hari di negeri Israel. Tuhan ternyata menimpakan perkara penyakit sampar itu, lalu membunuh 75.000 umat Israel.

Rupanya pilihan Allah dengan membunuh orang lain yang bukan keluarga Daud justru lebih menghancurkan dirinya. Daud sadar bahwa dirinyalah yang berdosa. Semestinya ia dan keluarganyalah yang layak menerima bencana itu. Kesadaran itulah yang mendorong Daud untuk meminta kepada Tuhan agar bencana itu tertimpa kepada ia dan keluarganya. Namun, Tuhan tahu bahwa justru dengan kematian orang lain yang tidak bersalah itulah yang membuat hati Daud benar-benar remuk, dan akhirnya ia pun bertobat di hadapan Allah.

Namun, apakah Allah tidak berlaku adil dengan membunuh orang yang tidak bersalah? Jawabannya adalah bahwa Allah tidak membunuh orang secara sembarangan. Pastilah yang dibunuh Allah itu adalah orang-orang yang tidak takut akan Allah. Untuk menyimak hal itu, cermatilah ayat-ayat dalam 2 Samuel 24:1 dan 1 Tawarikh 21:1.


Sebuah Tindakan Berdimensi Ganda:

Laporan di dalam 2 Samuel 24:1 sering dianggap berlawanan dengan 1 Tawarikh 21:1. Dalam 2 Samuel, tercatat "Bangkitlah pula murka Tuhan terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: 'Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda'". Dalam 1 Tawarikh, tercatat "Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel".

Sebenarnya kedua ayat firman Tuhan itu tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi. Untuk memahami kedua ayat itu lebih jelas, kita harus melihat isi hati Daud pada saat itu. Seperti telah dijelaskan, Daud masih memiliki satu karakter yang cukup mem¬bahayakan dirinya, yaitu kesombongan. Kesombongan itu menjadi pintu baqi Iblis untuk menyerangnya. Dalam hal itu, 1 Tawarikh 17: 1 menjelaskan bahwa Iblis menggunakan Daud untuk melawan umat Israel. Silahkan baca keterangan di kontradiksi-perjanjian-lama-vt549.html#p1073

Pada saat yang sama, umat Israel atau sebagian umat Israel menentang Tuhan atau berdosa kepada Tuhan. Alkitab tidak menjelaskan apa dosa itu. Namun, bahwa Tuhan murka kepada umat itu bukan tanpa dasar. Dasar yang benar mengapa Tuhan murka adalah karena keberdosaan. Murka Tuhan itu harus dilaksanakan melalui penghajaran atau penghukuman. Tuhan mengetahui bahwa pada saat yang sama, Daud pun sedang mengalami sebuah masalah karakter yang sedang dimanfaatkan oleh Iblis.

Jadi, Allah mengizinkan Daud dibujuk Iblis untuk menghitung tentara Israel sehingga terlaksanalah kehendak-Nya. Allah, di satu pihak, menghajar umat Israel karena berdosa, yaitu dengan membunuh orang-orang berdosa sebanyak 75.000 orang. Di pihak lain, Allah mau agar Daud menyadari kesombongannya melalui peristiwa itu.

Penghajaran Tuhan itu temyata berhasil. Daud menyadari kesombongannya dengan penyesalan dan pertobatan yang tulus. Daud berkata kepada Tuhan, "Sesungguhnya aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku" (2 Samuel 24:17). Dalam 1 Tawarikh 21:17, Daud berkata, "Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah yang telah berdosa dan yang melakukan kejahatan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Ya TUHAN, Allahku, biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku, tetapi janganlah tulah menimpa umat-Mu."

Dalam perkataan Daud itu, seolah-olah umat yang dibunuh Tuhan itu tidak bersalah. Memang benar, dari sudut peristiwa itu, umat Israel tidak berdosa. Itu mumi kesalahan Daud. Namun, bahwa Tuhan murka kepada mereka, pasti karena dosa tertentu yang tidak disebutkan dalam Alkitab. Tidak mungkin Tuhan murka kepada orang beriman (orang benar) dan sembarangan membunuh orang.


Pelajaran yang Dipetik:

Dari kasus kesombongan Daud, ada beberapa pelajaran penting yang dapat diperoleh. Pertama, sering seseorang memiliki sebuah atau beberapa karakter yang agak sukar untuk dideteksi sejak dini. Namun, jika kita menyadari bahwa semua orang berdosa pasti memiliki sebuah atau beberapa kecenderungan watak atau kepribadian buruk, kita bisa lebih cepat untuk mewaspadai kecenderungan itu. Jika sudah mewaspadainya, sebaiknya kita segera berusaha menanggalkan watak atau kepribadian buruk itu.

Kedua, jika watak buruk itu lambat untuk disadari, watak itu akan menjadi pintu bagi si Iblis untuk menghancurkan kehidupan scseoranq. Apalagi, seseorang itu sudah dipakai Tuhan begitu indah dalarn bidang pelayanan. Ketika orang tersebut berada pada tingkat yang tertinggi dalam karier atau pelayanannya, si Jahat akan menggunakan celah melalui karakter buruk itu untuk mempermalu¬kan hamba Tuhan tersebut. Hal itulah yang terjadi pada Daud.

Ketiga, tindakan Tuhan sering mengandung maksud dengan banyak segi. Namun, semua itu dilakukan demi kebaikan anak-anak-Nya, dan akhimya, tindakan yang multidimensi itu akan memuliakan nama-Nya. Dalam kasus Daud, di satu sisi ada sebagian orang Israel yang dimurkai Tuhan. Namun, di sisi lain Daud sedang dalam sebuah kondisi kerohanian yang memerlukan pembedahan terhadap kesombongannya. Pada saat yang sama, Tuhan mengizinkan Iblis untuk masuk dari pintu kelemahan Daud, untuk menggodanya.

Keempat, penghajaran dari Tuhan itu pada mulanya memang pahit. Namun, jika anak Tuhan yang sedang dihajar taat pada pendisplinan itu, buah pertobatan yang mahaindah akan timbul. Dalam kasus itu, Daud akhimya disadarkan atas kelemahannya, dan selanjutnya menghasilkan pertobatannya.


Sumber :
Samin H Sinotang, SH, M Div., Kasus-kasus Dalam Perjanjian Lama, Yayasan Kalam Hidup, 2005, hlm. 156-163

0 komentar:



Posting Komentar