Tampilkan postingan dengan label UCAPAN PAULUS YANG SULIT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UCAPAN PAULUS YANG SULIT. Tampilkan semua postingan

Dosa yang Bertambah

* Roma 5:1-21Hasil pembenaran
5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar -- tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati --.
5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
5:9 Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
5:10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
5:11 Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
5:13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,
5:21 supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.



Pada pembacaan pertama, Roma 5:20 nampaknya mengatakan bahwa tujuan dari Hukum Taurat Allah, yang diberikan kepada Musa untuk umat Israel, adalah untuk menambah dosa manusia. Tetapi apakah mungkin Allah yang dinyatakan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus sengaja bertindak demikian sehingga dosa bertambah? Tidakkah wahyu Allah, mulai awal sampai akhir sejarah penebusan seperti tercatat dalam Alkitab, menceritakan tentang Allah yang berusaha untuk membawa ciptaan-Nya yang hilang dan sesat kepada pemulihan hubungan dengan diri-Nya sendiri?

Untuk memahami Paulus dengan tepat, kita perlu mempertimbangkan konteks dari bacaan ini, dan juga beberapa pernyataan lainnya tentang tujuan Hukum Taurat.

Dalam Roma 5:12-21 Paulus menggambarkan pertentangan antara konsekuensi dosa manusia yang menghancurkan dan keagungan pemberian keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Dosa memasuki hidup manusia melalui keputusan Adam untuk menolak tujuan Allah, dan dosa itu menjalar melalui ketidaktaatan manusia yang terus-menerus (Roma 5:12). Setelah menyatakan hal ini, Paulus segera menyadari bahwa w~lau.pun dosa telah ada sejak awal, Hukum Taurat baru diberikan kemudian (Roma 5:13). Inilah persoalannya: Walaupun indlvidu tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas sesuatu yang belum ada, rnereka adalah bagian dari kelompok rnanusia yang terasing dari Allah dan tuluan-tuluan-Nya yang baik (Roma 5: 13¬14).

Dalam pemahaman tentang dosa manusia secara k~lompo~ dan tanggung jawab individu inilah ayat 20 harus dipahami:
"Tetapl Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran rneniadl semakin banyak" tidak mungkin berarti Allah bermaksud menam¬bah dosa. Paulus telah menunjukkan bahwa baik dosa maupun konsekuensinya yaitu kematian adalah realitas yang universal. Dan ini tidak rnungkin bertambah lagi. Dosa apakah yang lebih besar daripada dosa yang memisahkan seluruh ciptaan dari Penciptanya?

Dengan demikian arti dari bacaan itu pastilah Hukum Taurat diberikan untuk "meningkatkan kesadaran akan dosa." Hakekat dosa yang merusak dan menghancurkan benar-benar diungkap¬kan ketika tujuan Allah yang baik, yang dinyatakan dalam Hukum Taurat, dilanggar.

Sepanjang Perjanjian Lama, dan dalam penafsiran guru¬guru agama Yahudi tentang cerita pemb~rian Hukum Ta~rat kepada Israel, jelas bahwa Hukum Taurat itu sebenarnya dlpahami sebagai pemberian Allah. Paulus Juga mernillkl pandan.gan semacam ini (lihat Roma 7:10). Tetapi dengan rnengabaikan Hukum Tau rat, umat manusia mengungkapkan besarnya kehancuran itu.

Pemahaman tentang ayat 20 ini dikokohkan lagi dalam beberapa pernyataan serupa yang dibuat oleh Paulus di ternpat-tempat lain. Dalam Roma 3:20 ia mengatakan bahwa "Karena justru oleh Hukum Taurat orang mengenal dosa." Dalam Roma 7:7-8 Paulus dengan jelas membuktikan bahwa Hukum Taurat itu bukan dosa. Bukan Hukum Taurat yang membawa kita kepada dosa. Hukum Taurat hanya menunjukkan seperti apakah dosa itu dan bagaimana dosa itu menyatakan dirinya, "Justru oleh Hukum Taurat aku telah mengenal dosa." Akhirnya, dalam Galatia 3:19, Paulus bertanya, "Kalau demikian, apakah maksudnya Hukum Taurat?" Dan kemudian ia memberikan jawabannya "Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran."

Jika semua pandanqan ini disatukan, jelaslah bahwa "dosa yang bertambah" tidak mengacu kepada penumpukan dosa atau dosa yang lebih besar (Iawan dari dosa yang lebih kecil). Sebaliknya, dalam terang Hukum Taurat dan kasih karunia Allah dalam Kristus (Roma 5:20-21), besarnya dosa manusia dinyatakan dan diungkapkan kepada kesadaran kita.
Selengkapnya...

Dosa Satu Orang Berarti Kematian Saya?

* Roma 5:12-21 Adam dan Kristus
5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
5:13 Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.
5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,
5:21 supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.



Mengapa dosa dari manusia pertama harus menjadi kejatuhan seluruh umat manusia?
Mengapa semua manusia sesudahnya harus berada di bawah hukuman Allah karena dosa pertama yang tidak seorangpun dati kita bertanggung-jawab atas hal tersebut?
Menghadapi pertanyaan semacam ini, bagaimanakah kita dapat percaya bahwa Allah itu adil?

Dari diatas muncul masalah ini dan masalah-masalah lai nyang telah menjadi dasar dari doktrin-doktrin yang dipegang secara umum mengenai hakikat kesulitan manusia. Tetapi banyak masalah semacam itu merupakan hasil dari tafsiran yang tidak tepat atau pemahaman yang salah tentang teks.

Kata dosa (dan sinonimnya, pelanggaran) adalah kata kunci dalam Roma 5:12, dan juga dalam gambaran Paulus mengenai kondisi manusia dalam tiga pasal pertama surat ini. Apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan istilah tersebut? Bagaimana pemahamannya mengenai asal mula situasi manusia yang digambarkannya dengan istilah ini?

Dosa bukan sebuah masalah. Dosa juga bukan kelemahan genetis. Gagasan bahwa dosa itu diturunkan, dan dengan demikian menjadi .milik setiap individu melalui keturunan, pada akhirnya mengarah kepada pandangan yang rendah tentang seks. Seks dipandang sebagai penyebab utama dosa manusia yang dapat ditoleransi untuk tujuan menghasilkan keturunan, tetapi bukan bag ian dari pengaturan Allah untuk keutuhan dan kebahagiaan manusia.

Dosa juga bukan hakikat batin yang menyimpang. Masa¬lahnya dengan pemahaman dosa semacam ini adalah dosa itu membagi individu menjadi sejumlah kotak yang terpisah. Ini berasal dari gagasan bahwa kejatuhan manusia berakibat pada penyimpangan satu bagian yang penting dari diri kita. Sejumlah kemungkinan telah diusulkan. Menurut beberapa orang, bagian yang menyimpang itu adalah kehendak. Menurut orang-orang lain, bag ian itu adalah emosi atau gairah. Menurut yang lainnya lagi, bagian itu adalah akal budi. Suasana anti intelektualisme yang meresap dalam beberapa kalangan Kristen dapat ditelusuri pada pemahaman semacam ini. Karena pikiran manusia dipen garuhi oleh kejatuhan, maka kapasitas pemikiran kita menjadi menyimpang dan rusak dan cara kerja pikiran kita tidak dapat dipercaya.

Tetapi pandangan semacam ini tidak sesuai dengan semua data Alkitab. Kita jatuh sebagai manusia secara mutlak dan berada di bawah hukuman Allah. Baik kepala maupun[.i] hati kita berada di bawah tanda kematian. Keduanya adalah debu.

Dari sudut pandang Alkitab, istilah dosa menunjukkan hubungan khusus antara ciptaan dan Pencipta. Dan sebuah hubunqan tidak dapat diwariskan; hubunqan hanya dapat diba¬ngun atau dihancurkan, dikokohkan atau diingkari. Dengan demikian dosa adalah [i]realitas
hubungan.

Kita adalah orang-orang berdosa selama kita tidak berhubungan dengan Allah. Pertanyaan yang timbul dari kalimat di atas adalah: Mengapa kita seperti itu? Mengapa seperti itu keadaan kita? Mengapa berada dalam dilema semacam ini? Jawaban Paulus terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut terdapat dalam Roma 5: 12-13.

Secara tradisional, teks di atas telah dipandang sebagai dasar Alkitabiah untuk doktrin Kristen tentang dosa asal, "Kita semua berada di bawah kejatuhan manusia pertama; itulah sebabnya kita berada dalam keadaan kita sekarang lnl!" Tetapi pandangan ini tidak memadai. Karena Paulus tidak berkata bahwa kita berdosa karena Adam berdosa. la tidak mengatakan bahwa kita mati karena Adam berdosa. Yang dikatakannya adafah: Dosa (keterasingan dari Allah) memasuki sejarah pada pemberontakan manusia pertama ("dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang"). Akibat dari keterpisahan itu adalah kehancuran dan kematian. Tetapi perembesan secara universal dari kondisi tersebut disebabkan semua orang telah berdosa; semua orang telah memberontak terhadap Allah ("karena semua orang telah berbuat dosa'').

Ada perspektif yang mendua dalam surat Paulus ini yang harus dipelajari dengan serius jika kita ingin memahaminya de¬ngan benar. Satu sisi dari dua perspektif ini adalah gagasan Ibrani mengenai solidaritas manusia, pengakuan bahwa setiap individu ikut mengambil bagian dalam sesuatu yang bersifat umum. Sisi lainnya adalah pengakuan tentang tanggung jawab individu. Menurut yang pertama, kita berada dalam suatu ikatan; menurut yang terakhir, kita bertanggung jawab mengambil bag ian dalam ikatan tersebut. Mari kita melihat dualitas ini secara lebih terinci.
Solidaritas manusia. Paulus adalah pewaris sebuah tradisi mengenai kondisi manusia yang berakar dalam pada keper¬cayaan Yahudi. Tradisi itu mengakui saling ketergantungan yang erat dari individu dan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh solidaritas semacam itu, baik secara posltff maupun negatif. Kon¬sep Perjanjian Lama bahwa dosa orang tua akan mempengaruhi beberapa generasi berikutnya mengungkapkan gagasan kitab Ibrani mengenai solidaritas bersama ini. Latar belakang langsung dari pernyataan Paulus mengenai hubungan antara manusia per¬tama dan sefuruh umat manusia (Roma 5:12-21) secara jelas dapat dilihat dalarn karya seorang Yahudi pada abad pertama Sesudah Masehi.

[Adam] melakukan pelanggaran... Engkau menetapkan kematian untuknya dan untuk keturunannya ...

Karena Adam manusia pertama, yang memiliki hati yang jahat, melakukan petanggaran dan ditaklukkan, demikian juga semua orang yang merupakan keturunannya. Jadi kerusakan itu
menjadi permanen. (II Esdras 3:7,21-22) .

Oh Adam, apa yang tetah kau lakukan? Karena walaupun engkau yang berdosa, kejatuhan itu bukan kejatuhanmu saja, melainkan juga kejatuhan kami yang merupakan keturunanmu (II Esdras 7:118 ).

Paulus dengan jetas menggambarkan pemahaman orang Yahudi ini dalam Roma 5:12-13. Adam, manusia pertama yang khas dan mewakili manusia lain menyerah kepada godaan untuk menentukan hidup dan tujuannya sendiri (yaitu, ia berdosa). Akibat dari sikap menentukan nasib sendiri ini adalah kematian. Kematian adalah keterpisahan, karena mahkluk yang terpisah dari Peneipta tidak memiliki kehidupan. Kematian jasmani jelas merupakan bagian dari gambaran ini dalam pemahaman Paulus sebagai orang Ibrani. Keterpisahan dari sumber kehidupan mengakibatkan pembusukan dan kehancuran.

Tetapi bagi Perjanjian Lama maupun Paulus, kematian juga merupakan realitas, kondisi hidup yang nyata. Karena itu Yehezkiel menerima visi tentang "tulang-tulang kering" yang menggambarkan kegagalan Israel untuk tetap menjadi umat Allah (Yehezkiel 37). Hosea dapat berbieara mengenai kebangkitan Israel dari kubur kejatuhannya (Hosea 6:2). Dan Paulus dapat berbicara tentang orang Kristen sebagai orang¬orang "yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup" (Roma 6:13). Penegasan yang sama dari tradisi Alkitabiah ini adalah adanya hubungan yang misterius antara penentuan nasib manusia sendiri dan kematian, dan antara keputusan manusia pertama dan kematian kita. Kita saling memiliki, dan kondisi dari satu orang memiliki konsekuensi yang tidak terhindarkan untuk yang lainnya.

Studi sosiologis dan psikologis telah mengokohkan pemahaman Kitab Suei tentang 'sotldarnas manusia. Kita telah mengetahui bagaimana keturunan, latar belakang pendidikan, dan lingkungan memainkan peranan yang penting dalam pem¬bentukan kepribadian kita. Dalam banyak hal saya merupakan prod uk dari dunia saya. Diri saya sekarang ini adalah hasil dari segala sesuatu yang telah saya jalani seeara sadar dan tidak sadar pada masa lalu saya. Dengan demikian seorang anak yang dibesarkan dalam sebuah lingkungan yang memberi contoh kekerasan lebih mung kin untuk terlibat dalam tingkah laku yang penuh kekerasan dibandingkan anak-anak yang tidak dibesarkan dengan eara semaeam itu. Seorang anak yang memiliki orangtua yang terganggu seeara psikologis lebih memiliki kemungkinan untuk menjadi neurotis dibandingkan anak yang memiliki orangtua yang sehat mentalnya. Seorang anak yang turnbuh dalam keluarga yang berantakan kemungkinan keeil menjadi manusia yang utuh dan sehat dibandingkan anak yang dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan cinta kasih dan per¬hatian yang tutus dari kedua orangtua dalam sebuah hubungan yang konsisten dan stabi!.

Kita semua dilahirkan dalam sebuah masyarakat yang dibayangi oleh beratnya dosa manusia, struktur yang menekan, prasangka, ketidakadilan. Kita semua sedikit banyak dipengaruhi oleh bayangan-bayangan yang dilemparkan awan ini terhadap motif dan orientasi kita, sikap dan prioritas kita.

Tanggung jawab Individu. Dalam Roma 5:12-21, Paulus tidak hanya merefleksikan pemikiran agama orang Yahudi bahwa kita merupakan bag ian dari kelompok manusia dan dipengaruhi oleh saling ketergantungan tersebut, melainkan juga mengung¬kapkan keyakinan orang Yahudi bahwa sebagai individu kita ber¬tanggung jawab dan akan diminta pertanggungjawaban atas hubungan kita dengan manusia lain.

Pada jaman Yehezkiel, sudah dilakukan prates terhadap gagasan Ibrani kuno bahwa dosa orangtua akan diwariskan kepada anak-anak dan anak-anak akan dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran orangtua mereka. Dalam Yehezkiel 18, nabi tersebut berbicara tentang Firman Allah yang menentukan tentang tanggung jawab individu:

Tetapi karnu berkata: "Mengapa anak tidak turut menang¬gung kesalahan ayahnya?" Karena anak itu melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan semua ketetapan-Ku dengan setia, ... la pasti hid up. Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya. (Ye¬hezkiel 18: 19-20)

Konsep tentang tanggung jawab individu ini semakin dirasakan dan dengan jelas dinyatakan dalam tulisan-tulisan Yahudi sekitar jaman Paulus. Dalam Amsal Sotaiman, mulai abad pertama Sebelum Masehi, penulis mendiskusikan adanya keja¬hatan di dunia dalam hubungan yang jelas dengan Kejadian 2:

Jangan mengundang kematian karena kesalahan dalam hidupmu, jangan menimbulkan kehancuran karena peker¬jaan tanganmu;

karena Allah tidak menciptakan kematian ...

Tetapi orang-orang yang tidak saleh melalui perkataan dan perbuatan mereka menimbulkan kematian
(Amsal 1: 12-13, 16 Alkitab versi RSV).

Kesejajaran antara pemahaman mengenai tanggung jawab individu dan pernyataan Paulus dalam Roma 5:12 ini tidak mung kin salah. Gagasan yang sama dituliskan dalam buku Yahudi pada abad pertama Sesudah Masehi, Kitab Wahyu dari Barukh:

Karena itu Adam bukanlah penyebab, yang selamat karena jiwanya sendiri, tetapi kita masing-masing telah menjadi Adam dari jiwanya sendiri (II Barukh 54:19).

Hal yang ditegaskan Paulus dalam Roma 5:12 dengan latar belakang Yahudinya adalah bahwa masing-masing orang meneruskan pemberontakan dan kehendak pribadi dari Adam dalam kehidupannya. Dalam pengertian inilah kita masing¬masing menjadi bagian dari sejarah yang menentukan itu, yang berada di bawah tanda kematian. Masing-masing individu ikut mengambil bagian dalam kemanusiaan Adam dan bertanggung jawab atas partisipasinya itu. Kematian terus terjadi sepanjang sejarah manusia karena manusia secara individual telah berdosa. Mereka melakukan apa yang dilakukan Adam. Dan usaha untuk menentukan keberadaan kita sendiri, walaupun bisa terjadi da¬lam kehidupan sehari-hari, mengarah pada keterpisahan dari Allah.

Dalam teks kita, Paulus menegaskan kedua bagian dari pengajaran Ibrani tentang asal usul dan hakikat dosa : Kita berdiri dalam solidaritas yang misterius dengan Adam (Adam dan Hawa) dalam dosa; dan kita juga bertanggung jawab secara individu. Dalam pengertian tertentu kita terikat, dalam pengertian lain kita mutlak bebas. Tetapi karena kita berada dalam kedua posisi tersebut, maka kedua-duanya bukan merupakan kata final.

Pemahaman Paulus tentang dosa sebagai realitas hubungan yang dinamis secara langsung mengarah kepada apa kata final¬nya; yaitu bahwa realitas yang bertentangan mengenai keterikatan dan kebebasan kita dari dosa diatasi dalam hubungan yang baru yaitu dengan Yesus Kristus. Melalui hubungan itu, kita diperdamaikan dengan Allah dan dalam Kristus kita menjadi anggota manusia baru.
Selengkapnya...

Apakah Allah Murka?

* Roma 1:18-32 Hukuman Allah atas kefasikan dan kelaliman manusia
1:18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
1:19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
1:20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
1:22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.
1:23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.
1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
1:25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.
1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
1:29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.
1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,
1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.
1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.



Roma 1:18 menulis "Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman". "Murka Allah" disini sulit dimengerti dan dipercaya. Bagi beberapa orang, gagasan mengenai "Allah yang murka" telah menjadi perintang iman. Bagi orang-orang lain, yang telah mengalami kasih karunia Allah yang mengubah kehidupan mereka, gagasan mengenai kemurkaan Allah ini nampaknya bertentangan dengan pengalaman mereka tentang Allah. Dapatkah dipercaya bahwa Allah yang kasih-Nya tanpa syarat terungkap dalam firman "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8 ) adalah juga Allah yang murka?

Sebelum kita mengangani masalah yang pokok, kita perlu mendiksusikan penggunaan istilah anthrophomorfisme dalam Alkitab, yaitu penggunaan analogi pengalaman manusia untuk menggambarkan Allah. Alkitab berbicara tentang hakikat. Allah yang mutlak dapat memperkirakan seperti apakah Allah dengan membandingkannya kepada kita sendiri. Sesungguhnya inkarnasi, yaitu datangnya Allah ke tengah-tengah kita dalam Firman menjadi manusia (Yohanes 1:14), mensahkan dan memberikan kuasa terhadap pernyataan anthrophomorfis tentang Allah.

Dalam bahasa teologi yang tradisional, pnggunaan anthrophomorfisme yang perlu dan sah ini telah dikenal, tetapi juga ada kekurangan-kekurangannya. Jadi, jika ilmu pengetahuan dan kekuasaan adalah aspek-aspek pengalaman manusia. Allah dianggap memiliki hal-hal diatas secara mutlak dan tidak terbatas : Ia Mahatahu dan Mahakuasa.
Pada umumnya, aspek-aspek sifat dan pengalaman manusia yang tertinggi dan terbaik dikaitkan dengan Allah. Kita memandang Allah sebagai yang memiliki kebenaran, kasih-karunia, keindahan, cita-kasih, kesetiaan secara lengkap atau mutlak. Tetapi konsekuensi cara berfikir tentang Allah semacam ini adalah penolakan untuk mengaitlan sifat-sifat atau perasaan manusia yag kita pandang negatif dengan Allah : Kebencian, kemarahan, ingin membalas dendam, keburukan, dan sebagainya. Murka jelas merupakan salah satu hal yang negatif ini.

Ada beberapa dasar Alkitabiah untuk penolakan ini. Misalnya, dalam Hosea 11, alasan penolakan Allah untuk menyerahkan Israel walaupun Israel jelas pantas dihancurkan atas dasar standard keadilan manusia adalah fakta bahwa "Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan" (Hosea 11:9).
Walaupun demikian, alasan utama dari kesulitan kita untuk mengaitkan sifat-sifat manusia yang negatif semacam ini dengan Allah adalah pandangan yang idealis dan romantis tentang Allah, yang lahir dari spekulasi filosofis. Alkitab tidak memiliki pandangan semacam ini tentang Allah, karena Alkitab memandang Allah dan dunia ini secara lebih serius daripada sekadar spekulasi filosofis yang abstrak.

Tuhan dari Alkitab memiliki hubungan dengan ciptaanNya di dalam Tuhan Yesus kristus, dimana "seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia" (Kolose 1:19). Tuhan Yesus inilah, yang juga "dalam segala hal disamakan dengan saudara-saudara-Nya" (Ibrani 2:17).
Alkitab juga sangat serius dalam memandang hubungan antara Pencipta dan yang diciptakanNya. Karena ciptaan milik Allah, ciptaan itu bertanggung jawab terhadap Allah. Dalam hubungan tanggung-jawab semacam ini, konsep yang romantis, idealistis, dan sentimental tentang Allah tidak pada tempatnya. Dengan latar belakang yang lebih luas inilah konsep tentang murka Allah harus dipahami.

Rasul Paulus ingin mengajar kita, ketika ia berbicara tentag murka Allah dalam konteks teologi penciptaan. Cerita Alkitab tentang penciptaan dan pembuangan yang terdapat dalam pasal-pasal pembukaan kitab Kejadian jelas menjadi latar belakang dari Roma 1:18-23. Khususnya pada ayat 21-22 merupakan peringatan yang tajam tentang penolakan uman manusia (Adam) untuk hidup sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Allah, dan sebaliknya ingin menajdi seperti Allah (lihat Kejadian 3:1-7).

Dalam cerita kitab Kejadian ini, timbul godaan untuk menyangkal kemanusiaan, keterbatasan, dan ketergantungan kita kepada pencipta supaya kita menjadi "seperti Allah" (Kejadian 3:5). Akibat dari penyangkalan ini adalah kita menajdi rendah, lebih rendah daripada menusia seharusnya. Menurut peristiwa yang dicatat dalam Kejadian pasal 3 s/d 11, penyangkalan akan ketergantungan dan tanggung jawab terhadap Allah mengakibatkan bermacam-macam penyimpangan didalam berbagai lingkup masyarakat manusia. Paulus, dalam Roma 1:25 menyimpulkan situasi ini dengan kata-kata berikut : "Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin". Dalam penilaian terhadap tujuan Allah untuk penciptaan dan penolakan itulah gagasan murka Allah perlu didengarkan.

Paulus berbicara tentang murka Allah dalam 2 hal. Kebanyakan. Ungkapannya mengacu kepada peristiwa masa depan dimana hukuman Allah dilaksanakan atas dunia. (Roma 2:5,8; 5:9; Efesus 5:6; 1 Tesalonika 1:10; 5:9). Dalam konteks ini, murka Allah (atau persamaan katanya "hukuman Allah") jelas dipandang sebagai aktivitas Allah, tidakanNya yang tegas terhadap dosa. Penting untuk dicatat disini bahwa murka adalah reaksi pribadi Allah terhadap dosa., walaupun berbeda dengan murka dalam berbagai ilah-ilah pada agama dan mitos Yunani-Romawi, murka Allah tidak berubah-ubah, brsifat membalas dendam atau jahat.

Dalam teks kita, Paulus tidak mengatakan bahwa murka Allah akan diungkapkan pada hari kiamat (yaitu hari penghakiman) malainkan, "Murka Allah sedang dinyatakan dari Surga sekarang". Murka Allah bukan hanya merupakan reaksi ilahi terhadap ketidak-setiaan ciptaan dalam penghakiman di masa depan; ini sudah merupakan kenyataan pada saat ini. Perwujudan murka Allah pada saat ini ditegaskan dalam beberapa tulisan Paulus lainnya (Roma 3:5; 4:15; 9:22; 1 Tesalonika 2:16), dan juga dalam beberapa tulisan Perjanjian Baru lainnya (lihat Yohanes 3:26)

Seperti ditujukan pada bacaan yang mengikuti Roma 1:18, perwujudan muka Alah sekarang ini bersifat tidak langsung dan bukan langsung; murka Allah ini adalah ungkapan sesuatu yang diizinkan Allah untuk terjadi, bukan kehendak Allah yang aktif. Disini Allah tidak digambarkan melakukan sebagai reaksi terhadap dosa. Dalam pengertian tertentu, murka Allah tertanam didalam struktur realitas yang diciptakanNya.
Dengan menolak struktur Allah dan menciptakan struktur kita sendiri, melanggar tujuan Allah dan menciptakan struktur kita sendiri, melanggar tujuan Allah untuk penciptaan dan menggantikannya dengan tujun-tujuan kita sendiri, kita menyebabkan kehancura kita sendiri.

Kondisi manusia, yang digambarkan Paulus dalam Roma 1:18-32, bukan sesuatu yang disebabkan oleh Allah. Ungkapan "nyata dari Surga" (dimana "Surga" adalah kata khas Ibrani untuk menggantikan kata "Allah"), tidak menggambarkan campur tangan ilahi, melainkan tidak terhindarnya penurunan nilai manusia, yang terjadi jika kehendak Allah yang tertanam di dalam ciptaanNya dilanggar. Karena ciptaan itu berasal dari Allah, Paulus dapat mengatakan bahwa murka Allah sekarang (terus-menerus) nyata "dari Surga". Hal ini terungkap dalam fakta bahwa penolakan terhadap kebenaran Allah (Roma 1:18-20), yaitu kebenaran tentang hakekat dan kehendak Allah, mengarah kepada pikiran yang sia-sia (Roma 1:21-22), pemujaan berhala (Roma 1:23), penyimpangan terhadap seksualitas yang dikehendaki Allah (Roma 1:24-27) dan rusaknya hubungan (Roma 1:28-32).

Ungkapam "Allah menyerahkan mereka" yang muncul tiga kali dalam bacaan kita (Roma 1:24, 26,28 ), mendukung gagasan bahwa penyimpangan manusia yang menimbulkan dosa, walaupun berasal dari keputusan manusia, harus dipahami sebagai hukuman Allah yang diakibatkan oleh diri kita sendiri karena pilihan bebas kita.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran ini, tentang basaan kita, gagasan yang umum bahwa Allah menghukum atau memberkati dalam kaitan langsung denga perbuatan kita yang baik atau berdosa tidak dapat dipertahankan. Hubungan Allah dengan kita bukanlah hubungan timbal balik. Kasih Allah (lihat Artikel : Konsep cara pandang : Kasih Karunia.

Kasih Allah yang radikal dan tidak bersyarat telah ditunjukkan, yaitu ketika Tuhan Yesus Kristus mati ketika kita masih berdosa. Allah mengasihi kita dengan kasih yang abadi. Tetapi penolakan terhadap kasih itu memisahkan kita dari kekuatanNya yang memberi kehidupan. Akibatnya adalah kehancuran dan kematian. Terhadap ciptaan yang menimpang seperti inilah murka Allah dinyatakan.




Blessings in Christ,
Selengkapnya...