Menjadi Persembahan yang Hidup

Penulis : James Montgomery Boyce

Belum lama berselang saya membaca ulang novel indah karya Charles Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities. Kota yang dimaksud tentunya adalah Paris dan London, dan menceritakan kejadian pada Revolusi Perancis, dimana ribuan orang yang tidak bersalah dihukum mati dengan pemenggalan kepala oleh pendukung pendukung revolusi. Sebagaimana biasa dengan cerita Dickens, alur ceritanya sangat kompleks, tapi mencapai klimaks yang tidak terlupakan dimana Sydney Carton, satu tokoh yang tidak disukai dalam cerita ini, menggantikan temannya Charles Darney, yang seharusnya dihukum mati di Bastille.

Darney, yang telah dijatuhi hukuman mati, pergi dengan bebas, den Carton yang menggantikannya di tiang gantungan, berkata, "Ini adalah hal yang jauh, suatu tindakan yang jauh lebih baik yang kulakukan dari apapun yang pernah kuakukan; Ini adalah hal yang jauh, tempat peristirahatan yang jauh lebih baik yang kudatangi, dari apapun yang pernah kuketahui." Cerita itu ditulis dengan sangat indahnya sehingga tetap dapat membuatku menangis setiap kali membacanya, walaupun telah dibaca berulang kali. Ada perasaan terpesona yang dalam timbul sedemikian besarnya karena mengetahui pengorbanan hidup seseorang untuk orang lain. Itu adalah bukti paling besar dari cinta yang sejati.

Jika kita mencintai Yesus, kita akan mengorbankan hidup kita bagi-Nya. Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya" (Yoh.15:13), dan la melakukannya bagi kita. la secara harafiah benar-benar melakukannya. Pengorbanan Sydney Carton bagi temannya hanyalah sebuah kisah belaka, sekalipun sangat menggugah, tapi Yesus sungguh-sungguh mati di kayu salib bagi penyelamatan kita. Sekarang, karena la mencintai kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita, demikian juga kita yang mencintai-Nya memberikan diri kita kepada-Nya sebagai "Persembahan yang hidup / living sacrifices".

Tapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengorbanan yang Yesus lakukan dengan pengorbanan yang kita lakukan. Yesus mati menggantikan tempat kita untuk menanggung penghukuman Allah atas dosadosa kita sehingga kita tak perlu lagi menanggungnya. Pengarbanan kita, tidak sedikitpun sama seperti itu. Pengorbanan kita tidak merupakan penebusan atas dosa dalam arti apapun. Melainkan dalam arti bahwa kita sendirilah yang memutuskan pengorbanan kita yaitu mengorbankan diri kita sendiri. Itulah yang dikatakan Paulus ketika ia menulis, "karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Dalam pelajaran ini saya hendak mengungkapkan arti lebih dalam, dengan pertanyaan: Apa sebenarnya yang dimaksudkannya dan bagaimana kita melakukannya

Persembahan yang hidup.

Hal yang pertama sangat jelas. yaitu mempersembahkan yang hidup dan bukan yang mati. Ini merupakan ide baru di zaman Paulus, dan jelas telah dilupakan di zaman kini karena telah menjadi istilah yang sangat biasa. Di zaman Paulus, pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Di dalam praktek-praktek agama Yahudi, korban dibawa kehadapan imam, dosa dari orang yang membawa persembahan tersebut diakui atas korban dan dengan demikian secara simbolik memindahkan dosa-dosanya kepada korban yang dipersembahkan tersebut.

Kemudian korban tersebut dibunuh. Ini merupakan gambaran yang hidup yang mengingatkan kepada setiap orang bahwa "Upah dosa adalah maut" (Roma 6:23) dan bahwa keselamatan para pendosa digantikan secara substitusi. Di dalam gambaran pengorbanan tersebut, korban yang dipersembahkan mati menggantikan tempat manusia yang mempersembahkannya. Korban tersebut harus mati agar orang tersebut tidak mati mati. Tetapi sekarang, dengan ledakan kreativitas Iliahi yang diinspirasikan, Paulus mengatakan bahwa persembahan yang kita persembahkan adalah persembahan yang hidup, dan bukan yang mati. Sehingga sebagai hasilnya kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita "tidak lagi hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Dia, yang telah mati untuk kita dan telah dibangkitkan kembali" (2Kor. 5:15).

Persembahan yang dengan kehidupan yang hidup, ya. Tapi dengan kehidupan lama yang penuh dengan dosa dimana ketika kita hidup didalamnya, kita telah mati. Melainkan kita mempersembahkan kehidupan rohani yang baru yang telah diberikan kepada kita oleh Kristus. Robert Smith Candlish seorang pastor Skotlandia yang pernah hidup lebih dari 100 tahun yang lulu (1806-1873) telah meninggalkan beberapa pengajaran Alkitab yang indah. Satu set pengajarannya adalah mengenai Roma 12, dan didalamnya ada beberapa alinea yang akan kita refleksikan ke dalam kehidupan yang kita persembahkan kepada Allah. Kehidupan apa? tanya Candlish. "Bukan sekadar kehidupan binatang belaka yaitu kehidupan yang umum dari seluruh ciptaan dan termasuk ciptaan yang bergerak; Tidak sekadar, sebagai tambahannya, kehidupan yang inteligent (cerdas), yang menggambarkan kehidupan seluruh makhluk yang mampu berpikir dan mampu melakukan pemilihan yang bebas; tapi kehidupan rohani yaitu kehidupan yang memiliki arti yang tertinggi yang sebenarnya membutuhkan pertobatan yang dicapai melalui pengorbanan namun dinyatakan tak cukup, ketika mereka merasakan hal ini, maka mereka membutuhkan pengorbanan yang bersifat menebus.

Apa artinya ini, diatas segala hal, adalah bahwa kita harus menjadi orang-orang percaya jika kita ingin memberikan diri kita kepada Allah sebagaimana yang Ia inginkan. Orang lain mungkin memberikan kepada Allah, uang mereka atau waktu bahkan mungkin bekerja di lapangan pekerjaan agamawi, tapi hanya orang Kristen sajalah yang dapat memberikan kembali kepada Allah kehidupan barunya di dalam Kristus karena ia telah menerima terlebih dahulu. Sesungguhnya, ini hanya dapat terjadi karena kita telah dihidupkan di dalam Kristus sehingga kita dapat melakukannya atau bahkan kita dapat menginginkannya.

Mempersembahkan Tubuh

Hal kedua yang perlu kita lihat mengenai hakekat persembahan yang Allah kehendaki adalah meliputi pemberian tubuh kita kepada Allah. Beberapa buku-buku tafsiran kuno memberikan penekanan bahwa mempersembahkan tubuh berarti mempersembahkan seluruh totalitas kehidupan kita, seluruh aspek yang kita miliki. Calvin menulis, "Tubuh yang dimaksudkan bukan hanya kulit dan tulang-tulang, tapi seluruh totalitas yang membentuk tubuh kita." Walaupun ini benar bahwa kita harus mempersembahkan seluruh totalitas yang kita miliki, banyak buku tafsiran saat ini menolak kata tubuh ini dengan demikian mudahnya, padahal mereka mengetahui bagaimana Alkitab menekankan pentingnya tubuh kita. Sebagai contoh. Leon Morris berkata, "Paulus dengan sesungguhnya mengharapkan orang-orang Kristen mempersembahkan kepada Allah bukan hanya tubuh mereka saja tapi seluruh keberadaan mereka.Tapi harus selalu diingat bahwa tubuh adalah hal yang penting dalam pengertian kekristenan mengenai banyak hal Tubuh kita mungkin merupakan 'senjata-senjata kebenaran' (6:13) dan 'anggota Kristus' (1Kor. 6:15). Tubuh kita adalah 'bait dari Roh Kudus' (1Kor.6:19); Paulus dapat berkata untuk menjadi "kudus baik di dalam tubuh maupun di dalam jiwa" (1Kor. 7:34). Ia mengetahui bahwa ada kemungkinan adanya yang jahat di dalam tubuh (tubuh dosa) tapi di dalam orang-orang percaya "tubuh yang penuh dosa" telah dibersihkan (6:6).

Di dalam arti yang lama, Robert Haldane berkata, "Yang dibicarakan oleh para rasul di sini adalah mengenai tubuh, dan tidak perlu menggalinya lebih dalam dari arti yang sebenarnya.Ini menunjukkan bahwa kepentingan melayani Tuhan dengan tubuh sama dengan melayani-Nya dengan jiwa". Paulus tidak menguraikan Roma 12 lebih mendalam kepada pengertian dari mempersembahkan tubuh kepada Allah "sebagai persembahan yang hidup," tapi kita tidak ditinggalkan di dalam kegelapan mengenai pengertian ini karena pemikiran ini bukanlah ide yang baru, bahkan tidak di Roma. Pemikiran ini telah muncul di pasal enam surat Roma. Di pasal itu Paulus berkata, "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia" (vv, l2-14). Ini adalah kala pertama dimana Paulus berbicara soal persembahan, dan point yang ia buat ini sama dengan point yang dibuatnya kini yang berjudul, bahwa kita melayani Allah dengan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya.

Dosa dapat menguasai kita melalui tubuh kita, tapi hal ini tidak perlu terjadi Sehingga, daripada mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai alat dosa, kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata-senjata untuk melaksanakan kehendakNya. Secara praktikal kita perlu memikirkan hal ini dengan melibatkan anggot119ubuh kita yang spesifik

# Akal kita.
Saya memulainya dengan akal karena, walaupun kita berpikiran bahwa keberadaan kita sebesar akal kita dan memisahkan akal kita tersebut dari tubuh kita, sebenarnya akal kita merupakan bagian dari tubuh kita dan kemenangan yang kita perlukan dimulai disini. Saya mengingatkan saudara bahwa ini adalah titik permulaan dimana Paulus sendiri memulainya di ayat 2: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu" (penekanan pada kata mu).

Apakah saudara pernah mempertimbangkan bahwa apapun yang saudara lakukan dengan akal saudara akan sangat menentukan pembentukan saudara sebagai seorang Kristen? Jika saudara hanya mengisi akal saudara dengan produk-produk kebudayaan sekular, saudara akan tetap bersifat sekular dan berdosa. Jika saudara mengisi kepala saudara dengan novel-novel "pop" yang tidak bermutu, saudara akan mulai hidup seperti karakter tak bermutu yang saudara baca. Jika saudara tidak melakukan apapun dan hanya menonton acara televisi, saudara akan mulai bertingkah seperti penjahat-penjahat dilayar televisi. Di lain pihak, jika saudara mengisi pemikiran dengan Alkitab dan buku-buku Kristen, melatihnya dengan percakapan-percakapan yang bermutu, dan mendisiplinkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang apa yang saudara lihat dan dengan membandingkannya dengan kebenaran Alkitab di dalam praktekpraktek dunia, saudara akan bertumbuh dalam kebajikan dan bertambah berguna bagi Allah. Untuk setiap buku sekular yang saudara baca, buatlah itu menjadi pendorong semangat saudara. Untuk membaca satu buku kristen yang bermutu, buku yang dapat membangun pemikiran rohani saudara.
# Mafia dan telinga kita.
Akal bukanlah satu-satunya bagian dari tubuh kita yang menerima dan menyaring pengaruh-pengaruh dan yang harus dipersembahkan kepada Allah sebagai senjata-senjata kebenaran. Kita juga menerima pengaruh-pengaruh dunia melalui mata dan telinga kita, dan ini juga, harus dipersembahkan kepada Allah. Seorang sosiolog mengatakan kepada kita bahwa pada abad ke 21 pemuda-pemuda rata-rata telah diserang oleh 300.000 pesan-pesan sponsor komersil, dimana seluruhnya mengatakan bahwa kesenangan individu adalah merupakan tujuan hidup. Alat-alat komunikasi moderen kita menampilkan perolehan "hal-hal tersebut" mendahului kebajikan. Kenyataannya, mereka tidak pernah menyebutkan tentang kebajikan sama sekali. Bagaimana saudara dapat bertumbuh dalam kebajikan jika saudara secara tetap menonton televisi atau membaca iklan-iklan tertulis atau mendengarkan siaran radio yang sekular ?

Saya tidak mengarahkan kepada sistim penginjilan biara dimana saudara mundur dari segala bentuk kebudayaan, karena berpikir adalah jauh lebih baik menjaultinya daripada harus mati karenanya. Tapi kadangkadang masukan sekular harus diseimbangkan dengan masukan rohani. Tujuan lain yang sederhana untuk saudara adalah untuk menghabiskan waktu dengan mempelajari Alkitab, berdoa, dan pergi ke gereja sebanyak yang saudara habiskan untuk menonton televisi.
# Lidah kita.
Lidah juga merupakan bagian dari tubuh, dan apa yang kita lakukan dengannya adalah penting untuk kebaikan atau kejahatan. Yakobus, saudara Tuhan menulis, "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat diantara anggota-anggota tubuh kita sebagai suatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka" (Yak.3:6). Jika lidah saudara. tidak diberikan untuk Allah sebagai senjata kebenaran ditangan-Nya, hal pada konflik persenjataan untuk melakukan kejahatan dengan menggunakan lidahmu. Cukup lakukanlah dengan sedikit gosip atau fitnah maka semuanya akan tercipta.

Yang saudara perlu lakukan adalah menggunakan lidah saudara untuk memuji dan melayani Allah. Untuk satu hal, saudara harus belajar bagaimana menceritakan Alkitab dengan menggunakannya. Saudara mungkin menghafal banyak nyanyian-nyanyian populer? Dapatkah saudara juga menggunakan lidah saudara untuk memberitakan perkataan Allah? Dan bagaimana dengan penyembahan? Saudara harus menggunakan lidah saudara untuk memuji Allah dalam lagu-lagu pujian dan lagu-lagu kristiani lainnya. Di atas seluruhnya, saudara harus menggunakan lidah saudara untuk menyaksikan kepada orang lain mengenai Pribadi dan Pekerjaan Yesus Kristus. Ini adalah tujuan untuk saudara jika saudara ingin bertumbuh dalam kebajikan: Gunakanlah lidah saudara sebanyak mungkin untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain setiap saat.
# Tangan dan kaki kita.
Ada beberapa ayat-ayat penting dalam Alkitab mengenai tangan dan kaki. Dalam I Tes.4:11, Paulus mengatakan untuk bekerja dengan tangan kita sehingga kita dapat mencukupi diri sendiri dan tidak perlu bergantung pada orang lain: "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah karni pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan dimata dunia luar dan tidak bergantung pada mereka." Dalam Ef 4:28, ia juga mengatakan kepada kita untuk bekerja sehingga kita dapat memberikan sesuatu kepada yang berkekurangan: "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang kekurangan."

Sedemikian jauh kaki kita juga diperhatikan. Dalam Roma 10 Paulus menuliskan tentang pentingnya orang lain mendengar penginjilan, dengan berkata "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya,jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Rm. 10: l4-15). Apa yang saudara lakukan dengan tangan saudara? Ke mana kaki saudara membawa saudara? Apakah saudara mengijinkannya jika mereka membawa saudara ke tempat dimana Knstus ditolak dan dihina? Ke tempat dimana secara terbuka praktek-praktek dosa dilakukan? Apakah saudara menghabiskan lebih banyak waktu luang saudara di bar-bar yang panas atau tempat-tempat tercela lainnya? Di sana saudara tidak akan bertumbuh dalam kebaikan.

Malah sebaliknya, saudara akan jauh dari kelakuan yang benar. Sebaliknya, biarkanlah kaki saudara memimpin saudara ke perkumpulan orang-orang yang mencintai dan melayani Tuhan. Atau, bila saudara pergi ke dalam dunia, biarlah hal tersebut menjadi pelayanan kepada dunia dan menjadi saksi bagi nama Kristus. Gunakanlah kaki dan tangan saudara bagi Dia. Untuk setiap pertemuan-pertemuan sekular yang saudara hadiri, jadikanlah menjadi dorongan untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Kristen juga. Dan jika saudara pergi ke pertemuan sekular, lakukanlah sebagai kesaksian bagi Firman-Nya dan lakukanlah untuk Tuhan Yesus Kristus.

Kata ketiga yang Paulus gunakan untuk menjelaskan arti persembahan pengorbanan yang kita lakukan untuk Allah adalah "suci". Pengorbanan apapun yang kita lakukan haruslah kudus. Yaitu, harus tanpa noda atau cacat dan hanya berpusat pada Allah. Yang kurang dari hal tersebut adalah merupakan penghinaaan kepada yang Terbesar, Allah yang Kudus kepada siapa setiap orang harus menyembah. Tapi seberapa jauh kita harus kudus -- kita yang telah ditebus "bukan dari barang-barang yang fana seperti perak atau emas .... melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1Pet l:18- 19). Petrus menjelaskan. "tetapi sebagaimana Ia yang memanggilmu adalah Kudus, maka kuduslah kamu dalam segala perbuatanmu; sebagaimana tertulis: "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (VV. 15-16). Pengarang Ibrani berkata, "Tanpa kekudusan tidak seorangpun melihat Allah" (Ibr 12:14). Ini adalah pusat dari perbincangan kita ketika kita berbicara tentang persembahan yang hidup. Atau dengan kata yang lain lagi, kekudusan adalah tujuan dari seluruh arahan kitab Roma. Kitab Roma berbicara tentang penyelamatan. Tapi, keselamatan tidak berarti bahwa Yesus mati menyelamatkan kita di dalam (in) dosa kita tetapi menyelamatkan kita dari (from) dosa.

Handley C.G. Moule melukiskan hal ini lebih baik. "Sebagaimana kita sedang mendekati peraturanperaturan tentang kekudusan dihadapan kita, biarlah kita sekali lagi mengumpulkan apa yang telah kita lihat di dalam zaman rasul-rasul, bahwa kekudusan adalah merupakan tujuan dan persoalan dari seluruh Injil. Hal ini merupakan "bukti hidup" merupakan pembuktian tentang seberapa jauh seseorang mengenal Yesus sebagai satusatunya jalan ke Surga. Bahkan lebih lagi; hal ini adalah ekspresi dari hidup; merupakan dasar dan tindakan dimana hidup seharusnya dijalankan.Kita yang sudah merupakan "orang-orang pilihan" dan "ditetapkan" untuk "menghasilkan buah" (Yoh 15:16), buah yang banyak dan tetap. Apakah ada subjek-subyek lain yang lebih banyak ditinggalkan / dilupakan dalam penginjilan di Amerik139120m zaman kini ketimbang kekudusan? Saya tidak berpikir demikian. Memang ada waktu dimana kekudusan merupakan hal serius yang dikejar oleh siapapun yang menamakan dirinya Kristen, dan bagaimana seseorang hidup dan apa yang ada di dalam seseorang merupakan hal yang sangat vital.

J.I. Packer menuliskan sebuah buku berjudul "Rediscovering Holliness" dimana ia meminta perhatian untuk hal ini. "Kaum Puritan mendesak agar seluruh aspek kehidupan dan hubungan-hubungan didalamnya harus "kudus bagi Allah". John Wesley mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan telah membangkitkan kaum Metodis "untuk memercikkan kekudusan Alkitab keseluruh dunia". Phoebe Palmer, Handlev Moule, Andrew Murray, Jessie Penn Lewis, F.B. Meyer, Oswald Chambers, Hotrauus Bonar, Amy Carmichael dan L B.Maxwell hanyalah sedikit dari figure-figure yang memimpin kepada "kebangkitan kekudusan" yang menyentuh seluruh penginjilan kristiani antara abad pertengahan 19 dan pertengahan 20. Tapi sekarang? Didalam zaman kita, kekudusan adalah hal yang sangat dilupakan sebagai kualitas yang sangat penting bagi umat Kristen. Sehingga kita tidak mencoba untuk hidup kudus. Kita dengan pasti tahu apa artinya kudus. Dan kita tidak melihat kekudusan pada diri orang lain. Pendeta Robert Murray Mc.Cheney berkata, "keperluan terbesar dari umatku adalah kekudusan pribadiku." Tapi kekudusan seperti apa yang dilihat jemaat-jemaat pada diri pastor-pastor zaman kini? Pastinya ada. Mereka melihat kepada kepribadian yang menyenangkan, kepada kemampuan komumkasi yang baik, kemampuan administrative, dan hal-hal secular lainnya.

Seperti untuk diri kita sendiri, kita tidak mencari buku atau kaset agar menjadi kudus atau menghadiri seminar yang dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita lebih menginginkan informasi mengenai "Bagaimana menjadi bahagia," "Bagaimana membesarkan anak." "Bagaimana memperoleh kehidupan sexual yang indah," dan lain-lainnya. Untunglah kekurangan ini telah diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin rohani yang merasa terganggu dan telah memulai membahas pokok persoalannya. Saya menghargai buku karangan Packer sebagai buku yang sama baiknya dengan buku yang ditulis beberapa tahun sebelunuiya oleh Jerry Bridges yang berjudul "The Pursuit of Holiness / Pengejaran dari Hidup Suci". Ada juga cerita klasik yang sama dari seorang Bishop lnggris John Charles Ryle.

Menyenangkan Allah

Kalimat terakhir yang digunakan Paulus untuk menerangkan arti dari persembahan yang hidup adalah "menyenangkan Allah". Tapi ini juga merupakan kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan dalam pelajaran ini, karena tujuan utamanya adalah jika kita melakukan hal yang Paulus usulkan --sebutlah, mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus untuk Allah" -- kita juga akan menemui bahwa apa yang telah kita lakukan adalah menyenangkan hati Allah atau diterima. Sangatlah mengagumkan saya bahwa Allah menemukan sesuatu yang mungkin dapat kita lakukan untuk menyenangkan-Nya. Tapi itulah kenyataannya. Perhatikan bahwa kata menyenangkan muncul dua kali dalam kalimat yang pendek itu. Kali pertama, yaitu apa yang kita lihat disini, menyatakan bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah menyenangkan-Nya. Kali kedua, muncul di akhir ayat kedua, menyatakan bahwa ketika kita melakukan hal ini kita akan menemukan kehendak Allah dalam hidup kita yaitu untuk menyenangkan Allah sejauh dan sesempurna mungkin. Saya sadar bahwa kehendak Allah bagi saya merupakan hal yang menyenangkan - yaitu menyenangkan saya. Bagaimana mungkin tidak jika Allah adalah Allah yang Bijaksana dan Sumber kebaikan? Kehendak-Nya pasti adalah hal yang baik untuk saya. Tapi persembahan tubuh saya kepada-Nya juga menyenangkan hati-Nya -- ketika saya menyadari diri sebagai yang sangat berdosa, bebal dan yang tidak tulus hati walaupun didalam usaha yang terbaik sekalipun kenyataan ini sangat mengejutkan.

Namun inilah kenyataannya! Alkitab berkata bahwa untuk kebaikan kita harus berpikir sebagai hamba yang tidak berharga (Luk.17:10). Tapi juga dikatakan bahwa jika aku hidup bagi Yesus, mengembalikan kepada-Nya apa yang telah Ia berikan dulu kepada saya, maka suatu hari aku akan mendengar-Nya berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia! .... masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!) (Mat.25: 21,23).
Selengkapnya...

Apakah Harus Berkata-kata Dengan Bahasa Roh?

Penulis : Manfred T. Brauch

"Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat." 1 Korintus 14:5 Ucapan Paulus dalam 1 Korintus 14:5 dan pembahasan sekitarnya mengenai kehadiran dan fungsi karunia-karunia rohani dalam diri orang-orang beriman telah menimbulkan banyak pertanyaan: Apa kedudukan "bahasa roh" di dalam jemaat? Apakah orang-orang yang telah mendapatkan karunia rohani ini menjadi orang Kristen yang lebih saleh, lebih terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus, dibandingkan mereka yang belum mendapatkannya? Apakah Paulus bermaksud mengatakan bahwa semua orang Kristen harus mendapatkan karunia ini? Atau sebaliknya semua orang harus berpartisipasi dalam pekerjaan nubuat, dan memberikan tempat yang tidak penting untuk "berkata-kata dengan bahasa roh"?

Beberapa orang Kristen, atas dasar teks ini dan teks-teks lainnya, merasa lebih tinggi, atau lebih lengkap, karena mereka memiliki karunia bahasa roh, dan bersama-sama Paulus berharap bahwa saudara-saudara seiman mereka dapat memiliki pengalaman yang sama ini. Orang-orang Kristen lainnya, atas dasar teks yang sama, menganggap glossolalia ini (dari bahasa Yunani glossai "lidah") perwujudan dari iman yang primitif dan tidak dewasa, dan menganggap ketiadaan karunia atau pengalaman ini sebagai tanda kedewasaan yang lebih besar. Yang lainnya lagi, melihat iman yang bersemangat dan antusias, dan juga kesaksian dari beberapa orang yang memiliki karunia berkata-kata dengan bahasa roh, merasa bahwa mereka tidak berjalan seiring dengan Roh Allah dan sungguh-sungguh merindukan atau mencari pengalaman Roh yang akan menimbulkan semangat pada iman yang statis.

Masalah di atas, yang sedikit banyak sudah ada di sebagian gereja sepanjang sejarah gereja telah muncul kembali akhir-akhir ini dalam sebuah bentuk yang dikenal dengan nama gerakan kharismatik (dari kata bahasa Yunani charisma "karunia"). Karena gerakan ini telah masuk ke dalam semua golongan gereja dan mempengaruhi orang-orang beriman dalam hampir semua tradisi Kristen, kita sangat perlu mengerti ucapan Paulus yang sulit ini.

Sebuah definisi singkat tentang istilah-istilah yang digunakan oleh Paulus akan bermanfaat. Dua aktivitas yang dipertentangkan dalam ucapan sulit ini adalah "berkata-kata dengan bahasa roh" dan "bernubuat." Fenomena "bahasa roh" yang dinyatakan oleh Paulus sebagai karunia (bahasa Yunani, karisma) dari Roh Kudus ini (1 Korintus 12-14) harus dibedakan secara jelas dari fenomena yang menyertai pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1-12).

Dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus memampukan murid-murid Yesus untuk "berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain" (glossai Kisah Para Rasul 2:4, 11) sedemikian rupa sehingga para pendengarnya, yang terdiri dari orang-orang dari berbagai kelompok bahasa di seluruh daerah Yunani Roma, mendengar mereka berbicara mengenai kabar baik tentang Yesus (Kisah Para Rasul 2:6, 8) dalam bahasanya masing-masing (bahasa Yunani, dialekton "dialek/bahasa"). Di sini jelas terjadi pernyataan dan pendengaran yang penuh keajaiban di mana artinya yang jelas terungkap dan diterima pendengar.

Penafsiran Paulus tentang fenomena ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut harus dimengerti sebagai pernyataan yang jelas tentang kebesaran Allah. Ia mengutip nubuat dalam Yoel 2:28-32, di mana pencurahan Roh Kudus itu menimbulkan nubuat (Kisah Para Rasul 2:17-18).

Di Korintus, di pihak lain, fenomena bahasa roh yang dirisaukan Paulus diidentifikasi sebagai "bahasa yang tidak dimengerti": tidak seorangpun mengerti hal ini (1 Korintus 14:2); bahasa itu perlu ditafsirkan jika ingin membangun jemaat (14:5); bahasa ini dikontraskan dengan "kata-kata yang jelas" (14:9, 19) dan "banyak macam bahasa...tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti" (14:10); bahasa ini tidak mencakup akal budi (14:14); orang lain tidak tahu apa yang dikatakan (14:16).

Paulus membandingkan karunia "bahasa roh" ini dengan karunia "nubuat". Kita harus berhati-hati sejak awal untuk tidak memberikan gagasan yang terbatas pada kata nubuat. Kata ini tidak hanya berarti "meramalkan masa yang akan datang." Nubuat kadang-kadang mencakup unsur peramalan ini (baik di antara nabi-nabi Perjanjian Lama maupun nabi-nabi Kristen), tetapi aspek ini tidak eksklusif ataupun utama. Nabi-nabi Israel terutama menunjukkan Firman Allah pada kenyataan yang sekarang. Ini juga merupakan aspek utama dari pemberitaan Injil dalam kekristenan awal yang mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul, nubuat Yoel (bahwa "anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat" Kisah Para Rasul 2:17-18) terpenuhi dalam pernyataan tentang apa yang telah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 2:22-36).

Dalam 1 Korintus 11, berdoa dan bernubuat dibicarakan sebagai dua aspek khas dari orang Kristen dalam ibadah jemaat. Doa ditujukan kepada Tuhan, sedangkan nubuat berarti menunjukkan Firman Tuhan kepada jemaat yang beribadah. Dalam 1 Korintus 14:19-33, aktivitas nabi-nabi Kristen diartikan menyampaikan isi wahyu ilahi kepada jemaat demi pengajaran dan dorongan. Tujuan perkataan nabi ini sangat penting daam kontras antara nubuat dengan berkata-kata dalam bahasa roh, yaitu untuk membangun, menasihati, dan menghibur (1 Korintus 14:3).

Kita dapat meringkas perbedaan di atas sebagai berikut: Paulus memahami "bahasa roh" sebagai ucapan yang bersemangat dan penuh gairah, tetapi tidak jelas tanpa penafsiran. Tempatnya yang asli dan sesuai adalah dalam doa (1 Korintus 14:2, 16). Ia memahami "nubuat" sebagai pernyataan wahyu yang bersemangat (mungkin mencakup Injil, yaitu tindakan Allah di dalam Kristus, dan pengungkapan yang lebih jauh dari tujuan Allah berdasarkan kejadian itu), yang disampaikan pada gereja dalam bentuk perkataan yang jelas untuk pertumbuhannya yang terus menerus. Dengan latar belakang dan definisi ini kita sekarang siap untuk mengikuti argumentasi Paulus tentang ucapan yang sulit ini.

Konteks yang lebih luas terdapat sebelum bab 12-14, di mana Paulus membicarakan masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat gereja, khususnya dalam konteks ibadah. Prinsip yang utama dan pokok untuk tindakan Kristen adalah prinsip kemajuan rohani. Semua kehidupan dan tindakan Kristen seharusnya diatur oleh pertanyaan: Apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Apakah hal ini menimbulkan keselamatan dan/atau pertumbuhan iman mereka? Apakah ini baik untuk mereka? (1 Korintus 8:1, 9, 13, 9:12, 19-22; 10:23-24, 31-33; 11:21, 33). Prinsip ini terus berlanjut sebagai lintasan pedoman dalam pembahasan Paulus tentang kedudukan dan fungsi karunia rohani dalam 1 Korintus 12-14. Fokus dari pembahasan tersebut adalah manfaat relatif dari "bahasa roh" dan "nubuat" (bab 14). Tetapi Paulus menggunakan "nubuat" untuk membahas apa yang nampaknya merupakan masalah inti di Korintus: sikap meninggikan karunia berkata-kata dengan bahasa roh sedemikian rupa sehingga karunia-karunia lainnya dan juga orang-orang yang memiliki karunia itu diremehkan. Orang-orang yang menggunakan bahasa roh jelas melihat karunia ini sebagai tanda kerohanian yang lebih tinggi.

Pandangan semacam ini biasanya muncul secara alamiah di antara sekelompok orang beriman di Korintus yang merasa yakin bahwa mereka telah dibebaskan dari semua hubungan tanggung jawab dan masalah etika praktis (Lihat pembahasan tentang "orang-orang yang tinggi rohani" di Korintus dalam bab 15-17 di atas. Dalam ibadah, orang-orang yang tinggi rohani ini merasa bangga dalam fenomena wahyu sebagai pengesahan terakhir bahwa mereka bebas dari eksistensi yang terikat pada bumi, termasuk kata-kata yang rasional dan jelas. Pertanyaan Paulus kepada mereka dalam hal ini, seperti juga pertanyaan yang lebih awal sehubungan dengan masalah lain, adalah: Bagaimana peranan karunia ini untuk keselamatan atau untuk membangun orang lainnya, dan bukan hanya diri sendiri? (1 Korintus 14:4). Dasar untuk mengatasi masalah ini dijelaskan dengan teliti dalam bab 12-13. Singkatnya, pemikiran Paulus berkembang sebagai berikut: Ada bermacam-macam karunia untuk orang beriman, tetapi semuanya itu berasal dari Roh Allah (1 Korintus 12:4-6). Implikasinya adalah tidak seorang pun memiliki alasan untuk merasa bangga! Perwujudan dari Roh yang satu ini dalam bermacam-macam karunia itu adalah demi kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Jadi, dimilikinya karunia khusus itu bukanlah demi keuntungan pribadi seseorang. Rohlah yang menentukan bagaimana karunia itu dibagikan (1 Korintus 12:11). Karena itu, pemilik dari satu karunia tertentu tidak mempunyai alasan untuk merasa lebih disukai secara khusus atau dalam pengertian tertentu lebih tinggi daripada seseorang yang tidak memiliki karunia yang sama.

Rangkaian pemikiran ini kemudian ditunjang oleh gambaran jemaat sebagai tubuh Kristus, yang dibandingkan dengan anggota tubuh manusia yang hidup (1 Korintus 12:12-27). Tujuannya yang utama adalah untuk menyatakan bahwa walaupun ada bermacam-macam orang dan karunia dalam gereja, tidak boleh ada perpecahan; masing-masing bagian harus memperhatikan bagian yang lainnya (1 Korintus 12:25).

Setelah menekankan penting dan ab412nya semua anggota tubuh, dan juga karunianya yang bermacam-macam, Paulus kemudian melanjutkan dengan menunjukkan bahwa sehubungan dengan prinsip-prinsip yang membimbing kehidupan dan tindakan Kristen yaitu agar orang-orang lain dapat diselamatkan dan dibangun beberapa panggilan dan karunia lebih utama, lebih mendasar dari yang lain, dan memberikan sumbangan yang lebih langsung dan besar terhadap tujuan itu. Walaupun Paulus memulai daftar panggilan karunia itu dengan cara menyebutkan satu demi satu ("pertama rasul, kedua nabi, ketiga guru" 1 Korintus 14:28), ia tidak melanjutkan penyebutan itu pada daftar karunia yang tersisa. Pelayanan rangkap tiga dari kata itu yaitu kesaksian Rasul yang mendasar bagi Injil, pemberitaan Injil nabi pada gereja, dan pengajaran tentang arti dan implikasi praktis dari Injil jelas merupakan yang utama, sedangkan aktivitas-aktivitas lainnya yang ditandai oleh karunia-karunia itu (1 Korintus 14:28) bersifat tergantung dan sekunder terhadap pelayanan tersebut. Penyebutan bahasa roh di urutan terakhir tidak harus berarti bahwa karunia inilah yang "paling kecil" berdasarkan urutan hirarkisnya (karena kelima karunia itu tidak diberi nomor). Lebih mungkin Paulus menyebutkannya paling akhir karena bagi jemaat yang antusias di Korintus kata ini terletak di paling atas. Tetapi, sudah jelas bahwa "bahasa roh" ini termasuk ke dalam sekelompok karunia yang satu tingkat lebih rendah daripada pelayanan nubuat. Hal ini ditegaskan oleh kalimat penutup Paulus dalam Korintus 12:31, "Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang utama." Dapat diduga dari lanjutannya dalam bab 14 bahwa pemberitaan nabi (khotbah) dan pengajaran adalah "karunia-karunia yang utama" itu.

Desakan untuk memperoleh karunia-karunia yang utama diikuti oleh panggilan menuju daya tarik yang lebih besar, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31 "jalan yang lebih baik lagi," Alkitab versi RSV). Yang lebih baik lagi daripada berusaha memperoleh karunia-karunia yang lebih utama, menurut Paulus, adalah mengikuti jalan kasih (1 Korintus 13:1).Karena, seperti ditunjukkannya dengan sangat mengesankan di bab 13, karunia yang kecil maupun besar suatu hari akan lenyap. Tetapi kasih abadi. Paulus mungkin mengungkapkan panggilan yang luar biasa terhadap kasih ini karena ia mengetahui bahwa kasih itu secara murni ditujukan kepada orang lain dan akan menjadi kekuatan yang memberi semangat untuk mencari karunia-karunia yang membangun orang lain. Karena itu "kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat" (1 Korintus 14:1). Sekarang kita sudah siap untuk membahas secara khusus hakikat, fungsi, dan manfaat relatif dari bahasa roh dan nubuat (di dalam ucapan yang sulit itu). "Bahasa roh" adalah bahasa hati, yang ditujukan kepada Allah (1 Korintus 14:2). "Nubuat" adalah kata-kata Allah yang ditujukan kepada manusia untuk menasihati dan menghibur (1 Korintus 14:3). "Bahasa roh" pada pokoknya merupakan masalah pribadi; bahasa roh ini membangun diri sendiri. "Nubuat" merupakan masalah umum, nubuat ini membangun jemaat (1 Korintus 14:4).

Paulus menegaskan perlunya dimensi pribadi dan juga dimensi umum dari karunia-karunia yang berlawanan tersebut ketika ia mengungkapkan harapannya agar mereka semua memiliki karunia bahasa roh, dan kemudian segera melanjutkan harapan itu dengan harapa yang lebih besar, "tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat" (1 Korintus 14:5). Pengalaman pribadi yang menggairahkan, khususnya dalam keakraban hubungan doa seseorang dengan Allah, tidak seharusnya ditolak ("Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh" 1 Korintus 14:39). Paulus mengetahui nilainya dari pengalaman pribadi (1 Korintus 14:18). Dalam konteks ibadah jemaat sekalipun, bahasa roh ini bisa bermanfaat jika dijelaskan melalui penafsiran (1 Korintus 14:5) sehingga orang-orang lain dapat "dibangun" (1 Korintus 14:16-17). Karena "bahasa roh" itu dikenal sebagai karunia Roh dan diberikan oleh Roh Allah, Paulus dapat mengatakan, "Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh." Ini akan merupakan bukti bahwa Roh bekerja di dalam diri mereka. Walaupun demikian, prinsip pelaksananya (yaitu demi kebaikan orang lain) membawanya tanpa syarat kepada pilihan terhadap pemberitaan nubuat, "Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh" (1 Korintus 14:19).

Analisa ini membawa kita pada ringkasan kesimpulan sebagai berikut: Tidak satupun karunia Roh bersifat mutlak; hanya kasih yang mutlak. Karena itu, memiliki atau menggunakan karunia yang manapun bukan merupakan tanda kedewasaan rohani. Seseorang yang beriman harus terbuka terhadap karunia Roh dan jika mereka menerimanya, mereka harus menggunakannya dengan rasa syukur dan rendah hati. Setiap pencarian karunia tertentu secara sungguh-sungguh harus dipimpin oleh keinginan untuk melibatkan diri dalam membangun jemaat sehingga seluruh umat Allah benar-benar dapat menjadi alternatif ilahi bagi masyarakat manusia yang sudah rusak.

Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21

Sumber: Ucapan Paulus Yang Sulit
Selengkapnya...

Tolong Rusak wajahku


"(YESUS)..yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

Filipi 2:6-7
Setiap orang senang berada bersama-sama dengan orang-orang yang dikasihinya. Bersama keluarga, bersama sahabat, menikmati waktu-waktu bersama, tertawa dan makan bersama, tidak seorangpun ingin melewatkan hal itu. Seringkali karena pekerjaan dan berbagai hal lainnya, kita harus berpisah dengan mereka, namun kita ingin cepat-cepat kembali dan berkumpul bersama mereka.

Tahukah Anda, Tuhan sangat senang berada di antara kita. Dia sangat mengasihi Anda, dan ingin bersama Anda. Karena kasihNya yang begitu besar, Ia rela melakukan perjalanan paling jauh yang pernah ada. Ia meninggalkan sorga, untuk bisa bersama-sama dengan Anda di bumi ini.

Dia awali perjalananNya dengan menjadi embrio satu sel, dan masuk dalam rahim Maria. Tuhan semesta alam itu, meringkuk dan menendang-nendang dinding sebuah rahim. Kemudian dia lahir di tengah kemiskinan, pertama kali merasakan tidur, dia diletakkan disebuah palungan di kandang yang bau. Kemudian dia mulai bertumbuh dari anak-anak, remaja hingga dewasa sebagai seorang anak tukang kayu di desa kecil.

Pernahkah Anda terbayang, Tuhan itu tampil seperti orang biasa. Dia makan, makanan biasa, berjalan kaki kemanapun Dia harus pergi, tanpa seorang pelayan atau pengawal bersamaNya.
Pertanyaannya adalah, "Mengapa Tuhan pencipta langit dan bumi mau melakukan semua itu?" Jawabannya sangat sederhana, Dia ingin berada ditengah-tengah orang yang dikasihiNya.

___________________________________________________________________________

Dalam bukunya "The Next Door Savior" Max Lucado menuliskan sebuah kisah yang didengarnya dari seseorang yang bernama Dr. Maxwell Maltz. Kisah luar biasa ini menceritakan tentang arti sebuah kasih.

Seorang pria terluka dalam sebuah kebakaran ketika ia berusaha menyelamatkan orangtuanya dari rumah yang terbakar itu. Dia tidak berhasil menyelamatkan orangtuanya. Mereka meninggal dunia. Namun karena kebakaran tersebut, wajah pria tersebut rusak. Pria ini secara salah menafsirkan penderitaannya sebagai hukuman Tuhan. Pria ini tidak mau bertemu dengan siapapun - bahkan istrinya sendiri.

Istrinya pergi ke Dr.Maltz, seorang ahli bedah plastik untuk mencari pertolongan. Ia memberitahu wanita ini untuk tidak perlu kuatir.

"Saya dapat memperbaiki wajahnya," demikian katanya.

Tetapi istri pria tersebut tidak menyambut kabar tersebut dengan gembira. Suaminya berkali-kali menolak pertolongan apapun. Ia tahu suaminya akan menolaknya lagi.

Lalu mengapa wanita ini mengunjungi Dr. Maltz?

"Saya mau Anda merusak wajah saya supaya saya serupa dengannya! Jika saya bisa merasakan penderitaannya, mungkin ia akan membiarkan saya kembali dalam hidupnya."Dr.Maltz terkejut. Ia menolak permintaan wanita itu, tetapi ia begitu terharu oleh cinta wanita itu sehigga ia pergi dan berbicara kepada suaminya. Ia mengetuk pintu kamar tidur pria itu, sambil berbicara dengan keras, "Saya seorang ahli bedah plastik, dan saya ingin Anda tahu bahwa saya dapat memperbaiki wajah Anda."

Tidak ada jabawan.

"Keluarlah..!" lalu tidak ada suara lagi.

Dengan masih berbicara di depan pintu, Dr. Maltz pria itu bercerita tentang usul istrinya.

"Istri Anda meminta supaya saya merusak wajahnya, membuat wajahnya sama seperti wajah Anda dengan harapan bahwa Anda akan membiarkannya kembali dalam hidup Anda. Begitu besar cintanya kepada Anda."

Keadaan hening sesaat, dan kemudian, dengan sangat berlahan, gagang pintu mulai bergerak.

Tahukah Anda, sama seperti perasaan istri pria itu, demikian juga perasaan Tuhan terhadap kita. Tetapi yang Ia lakukan bukan sekedar ingin wajahnya sama seperti kita, tetapi Ia mengambil semua keburukan kita, semua dosa dan salah kita, semua sakit dan derita kita, Ia mati di kayu salib untuk kita. Hal itu YESUS lakukan karena Ia senang dan ingin bersama-sama dengan kita. Apakah Anda mau membuka hati Anda bagi Dia? YESUS menantikan Anda untuk membuka pintu hati Anda baginya saat ini.

sumber : The next door savior
Selengkapnya...

Ditetapkan untuk Mati, Tapi Hidup dan Bernyanyi


Gloria lahir dalam keadaan cacat. Kedua jari tangan kanan dan ketiga jari tangan kirinya tidak memiliki kuku. Demikian juga kakinya mengalami cacat serius. Kelima jari kaki kanannya tidak memiliki kuku dan bentuknya bulat, sedangkan telapak kaki kirinya hanya setengah bagian besarnya dan bentuknya bulat seperti kepalan tangan, tidak ada kuku dan tidak ada jari. Sejak kecil, Gloria tidak dapat memakai sepatu atau sandal. Pada waktu TK, Gloria harus memakai sepatu boot dan pada waktu SD tidak ada sepatu yang cocok bagi kakinya yang cacat itu. Akhirnya Gloria menggunakan sepatu anak laki-laki yang tertutup dan memakai tali agar sepatu tersebut dapat menyangga dan menutupi kaki kirinya yang hanya setengah itu. Sepatu yang ia pakai adalah sepatu yang alasnya terbuat dari karet yang cukup tebal dan cukup berat untuk ukuran kakinya yang kecil. Gloria berjalan terpincang-pincang karena sepatunya yang berat. Terkadang ia mengalami kesakitan dan harus menyeret sepatunya. Pelajaran olahraga adalah pelajaran yang menakutkan karena ia harus berlari keliling lapangan dengan sepatunya yang berat itu. Ia merasa malu, gagal, dan tidak berdaya. Di sekolah, ia merasa lain daripada teman-temannya. Gloria hanya dapat menangis dan menangis.

Gloria tumbuh menjadi anak yang pendiam, pemalu, dan tertutup. Ia sangat minder dan tidak memiliki rasa percaya diri. Pada masa kecilnya, Gloria tidak mengalami suatu masa yang indah seperti yang dialami oleh setiap anak. Ia mengalami suatu kegelisahan dan ia begitu ketakutan jika seseorang mendekatinya dan bersahabat dengannya, karena Gloria berpikir bahwa orang itu akan mengejeknya. Karena perasaan itulah, untuk berbicara dengan orang lain, ia tergagap-gagap, berkeringat, bingung, dan kehilangan semua kata-kata yang hendak diucapkannya. Hingga memasuki usia remaja, Gloria tidak memiliki teman yang mau menghabiskan waktu bersama dengannya, belajar bersamanya, dan untuk jalan-jalan. Pada saat teman-temannya bergembira di pesta ulang tahun yang ke-l7, Gloria tidak dapat menghadiri dan ikut berpesta dengan mereka. Gloria sangat kesepian dan semakin tenggelam dalam kesendiriannya.

Waktu terus berjalan dan Gloria tumbuh menjadi gadis dewasa, tetapi tidak datang perubahan apa pun pada dirinya. Gloria berteriak dalam kemarahannya, "Mengapa aku harus mengalami penderitaan seberat ini? Mengapa aku harus dilahirkan cacat seperti ini? Mengapa aku harus menderita seumur hidupku? Tidak bolehkah aku merasakan bahagia sedikit saja? Aku lahir dan tidak ada gunanya sama sekali, hanya menjadi beban bagi orang lain. Aku membenci diriku. Aku membenci semua yang ada padaku. Tidak ada yang baik di dalamku. Lalu untuk apa aku lahir? Lebih baik aku mati saja. Aku takut menghadapi hari esok."

Dalam keputusasaannya, Gloria berseru kepada Tuhan. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya berdoa dan kepada Tuhan yang mana ia harus minta tolong. Sampai suatu hari, seorang teman mengajak Gloria ke gereja. Asing bagi Gloria untuk mengikuti ibadah di gereja. Tetapi Allah sedang mempersiapkan jalan bagi hidup Gloria. Di tengah ibadah, Allah menjamah hati Gloria. "Saya merasakan damai pada saat itu." Hari itu, bulan Maret 1986, Gloria menerima Tuhan YESUS KRISTUS sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi dalam hidupnya, dan dibaptis pada bulan Agustus 1986. "Saya memiliki kasih yang baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, kasih dari Tuhan YESUS KRISTUS. Saya menangis dan menangis, menyadari ada seseorang yang mengasihi saya dan yang menerima saya apa adanya. Saya merasa tidak sendirian. Dan Ia juga memiliki rencana yang terbaik bagi masa depan saya."

Kasih yang baru membuat ia merasa hidupnya yang hampa dipenuhi kembali oleh harapan-harapan atas janji Allah. Hatinya meluap dengan rasa cinta kepada Tuhan YESUS. Setiap saat dorongan untuk membaca Alkitab, berdoa, dan menyembah Tuhan sangat kuat ia rasakan. Namun, perjuangan Gloria belum berakhir. Mamanya menentang keras pada saat ia mengetahui Gloria telah menjadi seorang Kristen. Sejak kecil, Gloria diajarkan untuk bersembahyang kepada patung. Karena tidak dapat menghentikan Gloria untuk ke gereja, mamanya mengancam, Gloria tidak boleh bersembahyang kepada papanya yang telah meninggal. Karena menurut kepercayaan mereka, salah satu cara menghormati orang yang sudah meninggal adalah dengan bersembahyang kepada fotonya. Dengan berbuat demikian, mama membuat Gloria merasa bahwa ia sudah tidak lagi menghormati kedua orang tuanya. Tetapi hal itu tidak membuat Gloria berhenti. Ia semakin dalam mengasihi Tuhan.

Waktu terus berjalan. Dua tahun setelah pertobatannya, Gloria menghadapi suatu kenyataan pahit yang selama ini tak diketahuinya. Suatu saat tantenya datang ke rumah. Dari mulut tantenya terkuak semua pertanyaan dalam benaknya yang selama ini tak terjawab. Tantenya bertanya pada Gloria, "Apakah kamu tahu, mengapa kamu lahir dan mengalami cacat tubuh seperti itu?"

"Saya tahu. Mama bercerita pada saya bahwa pada waktu saya ada dalam kandungan, Mama tidak sengaja memotong kaki ayam. Mama lupa bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Akhirnya saya lahir dan keadaan kaki saya seperti kaki ayam yang terpotong," jawab Gloria dengan tanpa rasa curiga. Namun, entah dorongan apa yang ada dalam diri tantenya, sehingga tantenya kemudian menceritakan yang sebenarnya pada Gloria. "Apa yang diceritakan oleh Mamamu tidak benar. Itu hanya suatu kepercayaan orang pada zaman dulu. Sebenarnya Mamamu baru menyadari bahwa dirinya akan memunyai seorang bayi lagi ketika kandungannya telah memasuki usia 3 bulan. Mama sangat terkejut dan bingung. Ia tidak menyangka bahwa ia akan memiliki seorang anak lagi, anak yang ketujuh. Mama berpikir akan diberi makan apa dan pendidikan yang bagaimana anak ini jika ia lahir. Untuk menghidupi keenam anak yang sekarang ada saja sudah sangat sulit. Mama mengatakan pada waktu itu perasaannya begitu kacau, ia tak tahu dari mana akan mendapatkan seluruh biaya yang ia butuhkan -- biaya untuk membeli obat dan vitamin, makanan bergizi, biaya untuk melahirkan dan perawatan bayi. Ketakutan melanda pikiran dan perasaan Mamamu. Mamamu bertekad untuk menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya. Segala usaha dilakukan, mulai dari minum jamu, obat-obatan, sampai dengan cara dipijit. Tetapi semua gagal. Mamamu memikirkan cara lain, yaitu dengan memberikan bayinya kepada orang lain jika ia lahir. Akhirnya bayi itu lahir. Begitu mengetahui bayinya mengalami cacat pada kedua tangan dan kaki yang serius -- hatinya hancur dan ia merasa bersalah, mengingat semua yang telah dilakukannya. Karena perasaan bersalahnya, mama kemudian memutuskan untuk memelihara sendiri bayi itu dan tidak diberikannya pada keluarga yang telah menyanggupi untuk mengambil bayinya itu."

Mendengar cerita itu, Gloria merasa seluruh dunianya runtuh. Tangisan, kemarahan, kesedihan, perasaan gelisah, dan keputusasaan, semuanya bercampur jadi satu. Kenyataan pahit yang didengarnya itu seperti membuka kembali lembaran pahit yang dilaluinya selama ini. Penderitaan demi penderitaan yang dirasakannya, ejekan dan tertawaan orang-orang yang didengarnya setiap hari, dan semua pemberontakan pada mamanya. Kini Gloria menyadari dari mana kebencian pada mamanya berasal. Kebencian yang amat dalam yang tidak pernah ia mengerti alasannya. "Tidak pernah Mama membedakan kami. Perlakuannya sama terhadap kami semua. Namun entah mengapa, saya sangat memberontak pada Mama. Saya selalu menentang Mama. Jika sesuatu yang saya minta tidak dituruti, saya akan sangat marah. Saya akan membanting pintu, menarik-narik rambut saya dan kepala saya bentur-benturkan ke tembok. Saya selalu mengomel untuk memuaskan kemarahan saya."

Kembali ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia harus mengampuni mamanya untuk semua yang mamanya perbuat terhadap dirinya. Gloria bergumul dan terus berjuang untuk mengampuni mamanya. Sampai suatu saat Gloria mengikuti retret. Firman Allah yang diberitakan dengan jelas didengarnya seperti Allah sendiri berbicara kepada dirinya, "Aku sudah mengenal engkau sebelum engkau dibentuk dalam kandungan ibumu. Aku sudah menguduskan engkau sebelum engkau keluar dari kandungan ibumu. Engkau sangat berharga di mata-Ku dan mulia, Aku ini mengasihi engkau." Dan mulai saat itu, perlahan demi perlahan Gloria menerima kesembuhan atas semua luka-luka di hatinya. Setelah luka-luka batinnya dipulihkan, Gloria mendapat tawaran pekerjaan di sebuah kursus bahasa Inggris untuk anak-anak usia "playgroup". Tanpa pikir panjang, Gloria menerima tawaran tersebut. Di sana, Gloria bekerja sebagai guru bantu yang bertugas membantu guru utama untuk mendampingi anak-anak yang belajar. Tugas Gloria adalah membantu anak-anak yang tidak bisa memegang pensil, menghibur anak-anak yang menangis di kelas, atau menemani anak-anak yang mau ke kamar mandi.

Pada suatu saat, salah satu orang tua murid datang ke tempat kursus. Dengan marah, ia menuntut kepada kepala sekolah untuk memberhentikan Gloria karena ia mengira Gloria terkena penyakit kusta. Ia takut penyakit itu akan menular kepada anak-anak di situ. Ia mengancam, jika Gloria tidak diberhentikan, ia dan beberapa orang tua murid yang lain akan mengeluarkan anak-anak mereka dari tempat kursus tersebut. Hari itu juga, Gloria dibawa diperiksa, dan dokter menyatakan bahwa itu bukan kusta. Masih tidak percaya dengan keterangan dokter, orang tua murid kembali menginginkan Gloria untuk diperiksa di laboratorium. Mendengar hal itu, Gloria sangat marah. Ia ingin melabrak orang itu. Namun, ketika berpapasan muka dengan muka, Gloria tidak dapat mengelurkan sepatah kata pun untuk melampiaskan kemarahannya itu.

Gloria berpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya agar tempat kursus itu tidak dirugikan. Keesokan harinya, ia menghadap kepala sekolah dan menyampaikan niatnya. Mendengar hal itu, kepala sekolah berkata kepadanya, "Kalau kamu keluar dari tempat ini, itu berarti kamu menyetujui apa yang dituduhkan kepada kamu." Jawaban dari kepala sekolah membuat Gloria menyadari apa yang sedang diperjuangkannya. Gloria tetap bekerja di tempat kursus tersebut, meskipun setelah kejadian itu beberapa orang tua murid menarik anak-anaknya untuk tidak belajar di situ. Tetapi setelah kejadian itu, pendaftaran murid-murid baru semakin banyak, sehingga dibutuhkan guru untuk mengajar. Akhirnya, diangkatlah Gloria menjadi guru untuk mengajar dan tidak lagi menjadi guru bantu. Gloria mempergunakan kesempatan tersebut untuk menceritakan tentang Tuhan YESUS kepada anak-anak pada 5 menit terakhir di setiap pelajaran yang diajarkannya. Sampai akhirnya, kepala sekolahnya memberi izin untuk membuka sekolah minggu di tempat kursus itu.

Gloria kemudian mendapat tawaran untuk mengajar di SD. Selama 4 tahun mengajar di sana, ia menceritakan tentang Tuhan YESUS kepada murid-murid. Hal ini kemudian diketahui oleh pihak sekolah dan kemudian Gloria diberhentikan. Gloria merasa sedih mengalami hal itu, tetapi ia percaya Tuhan yang membela hidupnya, Tuhan yang akan buka jalan sehingga Ia yang akan memberkati dengan berkali lipat. Beberapa bulan kemudian, Gloria mulai mendapat tawaran untuk mengajar anak-anak dari rumah ke rumah. Gloria juga memulai usaha membuat kue kering yang kemudian berkembang dengan pesat. Gloria pun memberi dirinya untuk mulai melayani Tuhan, bernyanyi bagi Tuhan untuk semua pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam hidupnya dan keluarganya.

o-------------o
Sumber: sabda
Selengkapnya...

Suatu Pelajaran kasih


Aku mengamati dengan teliti, ketika adik lelakiku yang bernama John tertangkap basah karena perbuatannya. Ia sedang duduk di sebuah sudut ruang keluarga dengan sebuah pena di tangan satunya dan buku puji-pujian milik Ayah yang baru sama sekali di tangan yang lain.
Ketika Ayah memasuki ruangan, adikku agak ketakutan; ia merasa bahwa ia telah membuat suatu kesalahan.
Dari kejauhan aku bisa melihat bahwa ia telah membuka buku puji-pujian yang baru itu serta mencorat-coret selebar serta sepanjang lembar pertama dari buku itu dengan penanya.
Sekarang, ia sedang menatap Ayah dengan rasa ketakutan sambil dia dan aku bersama menunggu apa yang Ayah akan perbuat.
Dan ketika kami menunggu hukuman apa yang Ayah akan kenakan kepada adik, kami tidak menerka sedikitpun bahwa Ayah akan mengajarkan kepada kami suatu pelajaran yang mendalam dan tak terlupakan tentang kehidupan dan keluargaan.
Ajaran-ajarannya itu semakin menjadi lebih dimengerti dengan lewatnya tahun lepas tahun.
Ayah memungut buku puji-pujiannya yang amat ia sayangi itu, mengamatinya dengan teliti, kemudian duduk tanpa mengatakan apapun.
Semua buku merupakan sesuatu yang amat berharga bagi dia; ia adalah seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis.
Bagi dia, buku-buku merupakan pengetahuan, namun ia pun menyayangi anak-anaknya. Apa yang ia lakukan kemudian sungguh luar biasa.
Ia tidak menghukum adikku, ia pun tidak memaki atau berteriakteriak secara emosional, melainkan ia duduk, mengambil penanya dari tangan adik dan kemudian menulis di buku pujian itu di samping corat-coret yang telah dibuat oleh adik.
Tulisannya berbunyi: Karya John, 1959, umur 2 tahun.
Betapa seringnya aku memandang wajahmu yang tampan dan kepada matamu yang hangat dan cerah yang sedang memandangku. Akupun bersyukur kepada Tuhan untuk dia yang kini mencorat-coret di dalam buku pujianku yang baru.
"Aduh!", aku pikir. "Hukuman apa ini?"
Tahun lepas tahun serta buku-buku datang dan pergi.
Keluarga kita mengalami hal-hal yang juga dialami oleh keluarga lain, mungkin lebih banyak sedikit: suka cita dan kesusahan, kejayaan dan kehilangan, tawa dan air mata.
Kami memperoleh cucu-cucu dan kehilangan seorang anak laki-laki.
Kami selalu tahu bahwa orang tua kami mengasihi kami.
Dan salah satu bukti dari kasih itu adalah buku nyanyian di dekat piano
itu.
Kadang-kadang, kami membukanya, memandang kepada corat-coret itu, membaca ekspresi dari Ayah dan merasakan syukur yang amat dalam.
Sekarang aku baru mengerti bahwa melalui perbuatan Ayah yang sederhana itu, beliau mengajar kami bahwa setiap kejadian di dalam hidup ini mempunyai segi yang positif bila kita bersedia untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan betapa besar nilainya bila hidup kita disentuh oleh tangan-tangan kecil.
Namun ia pun mengajar kepada kami, apa sebenarnya yang penting dalam hidup ini:
manusia bukan barang;
toleransi bukan penghukuman;
kasih bukan kemarahan.
Kini, akupun menjadi seorang ayah. Dan seperti Ayahku, seorang hamba Tuhan dan pemegang beberapa gelar akademis.
Namun, tidak seperti Ayah, aku tidak menunggu sampai putri-putriku dengan diam-diam mengambil buku nyanyianku dari rak buku clan mencorat-coret di dalamnya.
Kadang-kadang, aku mengambil sejilid bukan sejilid buku murahan, melainkan sebuah buku yang aku akan memilikinya bertahun-tahun, dan memberikan kepada salah seorang putriku untuk menulis namanya di dalam buku itu.
Dan bila aku memandang hasil tulisannya, aku ingat akan Ayahku, pelajaran-pelajaran yang ia ajarkan kepadaku, kasih yang demikian besarnya terhadap kami, anak-anaknya.

Arthur Bowler
MAJALAH REFLECTA ed.164 Mei 2009
Selengkapnya...

Butir padi simbol kasih


Dua bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Pada suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit." Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudara yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti, sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun dan tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya." Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing, sementara padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang, hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta, justru pereratlah persaudaraan tanpa memusingkan harta.

Bagaimanakah kita mampu membangun persaudaraan yang diwarnai kasih seperti kisah di atas tadi? Kedua orang saudara tadi belajar memahami kebutuhan satu sama lain. Yang masih lajang, dapat melihat tentulah lebih banyak kebutuhan saudaranya yang sudah berkeluarga daripada kebutuhannya sendiri. Sementara yang sudah berkeluarga mampu memahami saudaranya yang masih lajang itu tidak memiliki siapa-siapa, dia lebih membutuhkan kekayaan daripada dirinya. Kemampuan untuk memahami itu bisa menjadi kenyataan dalam perbuatan kalau mereka tidak lagi menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya sumber kehidupan. Mereka lebih menomorsatukan bagaimana orang lain bisa hidup layak di dunia ini, dengan konsekuensi, diri merekapun lalu dinomorduakan. Apakah kaitannya renungan ini dengan bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar tadi?

Dalam Bacaan I, Abram mempersembahkan sepersepuluh dari hasil jarahannya (kekayaan hasil perebutan dalam perang) kepada Melkisedek sebagai Imam Agung waktu itu. Kerelaan untuk memberikan sepersepuluh bukanlah hal yang mudah untuk dibuat, padahal sepersepuluh itu bukan aturan maksimal, tapi minimal. Orang sulit mempersembahkan kekayaannya karena menganggap kekayaannya sebagai satu-satunya sumber hidup dan andalan masa depan hidupnya. Demikianlah juga dikisahkan Matius dalam bacaan Injil, para rasul malah meminta kepada YESUS untuk menyuruh orang banyak itu pergi untuk mencari penginapan dan makanan, padahal mereka dalam kondisi tidak memiliki penginapan dan tidak memiliki makanan. Aneh bukan? Orang yang sudah tidak punya rumah dan tidak punya makanan malah diminta pergi. Pendeknya, "Jangan ganggu kami, kami ini repot! Memikirkan kebutuhan sendiri saja pusing kok memikirkan kebutuhanmu! Ah..EGP (Emangnye Gue Pikirin)!!”

Apa reaksi YESUS? YESUS meminta para murid untuk memberi mereka makan!! "Kamu harus memberi mereka makan!!" Padahal bekal yang ada hanya lima roti dan dua ikan! "Bagaiamana mungkin!!" pikir para murid-Nya? Di situlah letak "kekurang percayaan para murid pada YESUS!" Siapakah YESUS itu? Sudah sekian lama bergaul dan bersama YESUS, mereka toh juga belum menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya. Karena itu dibenak para rasul yang ada itu "Kemustahilan” untuk memberi 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Dalam keraguan dan kebimbangan karena "jalan buntu", YESUS mengajak para murid-Nya untuk memohon kepada Allah Bapa, "Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, lalu menengadah ke langit dan mengucap berkat, kemudian membagi-bagi roti dan memberikannya kepada para murid supaya dibagikan kepada orang banyak!"

Dengan mengajak para murid bersyukur dan mengucapkan berkat, YESUS mau mengubah gaya berpikir mereka dari kesempitan cinta diri menjadi sikap murah hati. "Kelaparan" manusia bukanlah sekedar kelaparan makanan dalam arti soal makan nasi dsb. Lebih dari itu, ada banyak orang yang "memiliki kekayaan yang berlimpah" tetapi tidak mampu membagikan kepada orang lain karena dirinya sendiri masih "lapar", yakni lapar rohani...Dia masih merasa kurang dicintai Allah dan sesamanya. Bagaimana orang akan yang kering cinta itu bisa berbagi kepada sesama.

Dengan mengucapkan berkat, para murid dan orang banyak itu diajak YESUS untuk menyadari diri mereka masing-masing bahwa kita itu diambil dan diciptakan Allah karena dicintai. Harga diri dan nilai martabat kita tidak ditentukan oleh "segala milik" kita, melainkan ditentukan oleh cinta Allah. Orang yang mengalami dirinya sungguh diterima dan diperhatikan Allah, dia akan mudah untuk tergerak berbagi dengan sesama. Keyakinan "dicintai Allah” itulah yang senantiasa diperbaharui oleh ROH KUDUS setiap kali kita ikut dalam perayaan Ekaristi.

Demikianlah juga orang banyak yang diajak YESUS berdoa, akhirnya mereka menyadari dicintai Allah walau hidup tanpa penginapan. Tetapi orang bepergian, pastilah dari sekian banyak orang mereka membawa bekal. Namun, siapa orang yang tidak cemas dan kuatir kalau diminta membagikan kepada sesama yang lebih kurang padahal bekal mereka sendiri sedikit. Nah doa YESUS kepada Bapa, meneguhkan iman mereka supaya mereka tidak cemas dan kuatir akan masa depan mereka melainkan tetap penuh pengharapan berbagi bekal dengan sesama. Apa yang terjadi kemudian? Ada 12 bakul penuh makanan tersisa.

Itulah sebabnya, setiap kali kita merayakan Ekaristi kita diajak untuk hidup seturut gaya hidup KRISTUS yang mau berbagi hidup-Nya bagi sesama, bahkan dengan resiko kematian sekalipun. "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" .... "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" (1 Kor 11:25-26)

Marilah kita mohon ROH KUDUS, agar kita yang "masih lapar" karena belum merasa dicintai Tuhan dan sesama, kita pun akan mengalami kasih Allah itu, sehingga akhirnya kita juga mau berbagi hidup dengan sesama.

Sumber renungan harian kita
Selengkapnya...

Bahasa Cinta


Seorang pendeta pernah memberi kesaksian yang menarik. Ia bercerita bahwa selama belasan tahun, setiap kali membeli ayam untuk istrinya, ia selalu membelikan bagian dada. Selama masa pacaran, ia melihat istrinya selalu makan bagian dada, sehingga ia beranggapan pastilah istrinya menyukai dada ayam. Setelah belasan tahun berjalan, ketika mereka saling membuka diri satu sama lain, barulah ia tahu bahwa sebenarnya istrinya paling suka bagian paha ayam. Lalu mengapa istrinya dulu selalu memilih bagian dada? Ternyata dada ia pilih karena ia tahu suaminya menyenangi bagian paha. Belasan tahun berjalan, tapi masih juga ada hal-hal yang belum diketahui mengenai pasangan hidup. Ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anda dan saya.

Seringkali kita menganggap bahwa apa yang kita sukai pastilah disukai juga oleh pasangan kita, anak kita, keluarga, teman-teman atau orang lain. Ada banyak ayah yang beranggapan bahwa jika mereka mampu mencukupi kebutuhan materi dari anak-anak atau istrinya, ia sudah menjalankan fungsi sebagai ayah teladan. Padahal mungkin pada banyak kesempatan, anak dan istrinya jauh lebih membutuhkan perhatian dan kehadirannya ketimbang pemenuhan kebutuhan materi. Selama saya mengajar dan berinteraksi dengan banyak orang sepanjang hidup saya, saya sampai pada satu kesimpulan: manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda. Baik dari sifat, tingkah laku, hobi, kegemaran, dan sebagainya. Artinya, apa yang saya suka, belum tentu orang lain suka. Apa yang terbaik bagi saya, belum tentu terbaik bagi orang lain.

Tuhan YESUS mengajarkan demikian: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kemudian di kesempatan lain: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12) dan "Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."(Yohanes 15:17). Perintah YESUS adalah untuk mengasihi orang lain, seperti Tuhan YESUS sendiri telah mengasihi kita. Bagaimana YESUS mengasihi kita? Tuhan YESUS mengasihi kita secara luar biasa, hingga mengorbankan diriNya untuk mati di atas kayu salib agar kita semua tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Mengasihi sesama seperti bagaimana YESUS mengasihi kita akan membuat kita harus mulai memikirkan untuk mengasihi orang lain sesuai dengan apa yang mereka butuhkan/inginkan, dan kemudian berusaha untuk memberikan tepat seperti itu. Bukan menurut kita, namun menurut mereka. Karena semua orang berbeda kebutuhan/keinginan nya.

Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan sebuah pengertian mendalam mengenai "bahasa kasih" agar kita bisa menjangkau hati orang-orang disekitar kita. Yang saya maksudkan dengan bahasa kasih adalah sesuatu yang kita berikan kepada orang lain yang didasarkan sesuai dengan apa yang mereka harapkan, bukan menurut apa yang kita sukai. Ada 5 hal yang biasanya menjadi "bahasa kasih" bagi orang:
1. Kata-kata pujian
Orang yang memiliki bahasa kasih ini biasanya akan bahagia atau merasa dikasihi jika mereka mendapatkan kata-kata positif, seperti dukungan, pujian, pengakuan dan lain-lain. Jika mereka mendapatkan sebaliknya, seperti cacian, kata kasar, melecehkan dan sebagainya, akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan.
2. Saat Bersama
Jenis ini akan merasa dikasihi jika orang yang mereka sayangi mau meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka, berbincang-bincang dari hati ke hati, jalan-jalan dan sebagainya.
3. Hadiah
Tipe seperti ini akan sangat senang jika mendapat pemberian, meski yang paling sederhana sekalipun.
4. Bantuan
Orang dengan tipe bahasa kasih seperti ini akan sangat bahagia jika orang yang mereka sayangi mau meluangkan waktu untuk membantu mereka, meski sedang sangat sibuk. Itu akan sangat berarti bagi mereka.
5. Sentuhan
Tapping on the shoulder, atau bagi suami-istri atau orang tua pada anak: pelukan, ciuman atau gandengan tangan, bisa berarti yang sangat besar bagi mereka.

Beda orang, beda bahasa kasih. Sudahkah anda mengetahui bahasa kasih dari pasangan anda,anak-anak anda, teman anda, dan orang tua anda? Dalam menggenapkan perintah KRISTUS untuk mengasihi orang seperti halnya Dia mengasihi kita, kita harus tahu apa yang paling mereka butuhkan, sama seperti YESUS mengetahui betul apa yang paling kita butuhkan. Meskipun segala sesuatu yang kita berikan dengan tujuan baik didasari kasih yang tulus tetaplah baik adanya, ada kalanya curahan kasih kita tidak akan maksimal jika kita salah memberi. Terkadang tanpa mengetahui bahasa kasih dari orang yang kita sayangi, kita bisa gagal dalam menyatakan kasih kita pada mereka. Malah bisa berujung pada pertengkaran, karena kita merasa pemberian kita tidak dihargai, mereka merasa tidak diperhatikan dan lain-lain. Jika YESUS mengasihi kita dengan memberikan yang terbaik buat kita, karena Dia tahu betul apa yang kita butuhkan, ini saatnya kita memberikan yang terbaik pula buat orang-orang yang kita kasihi, dengan mengenal terlebih dahulu apa yang paling mereka butuhkan sesuai dengan bahasa kasih mereka. Mari kenali bahasa kasih masing-masing, dan nyatakanlah kasih dengan maksimal.

Kenali bahasa kasih dari orang-orang yang kita sayangi
Selengkapnya...

Kisah Pendeta Stephen Tong


9 Januari 1957, hari itu pergumulan jiwa saya begitu berat. Menentukan apakah saya seumur hidup akan menyerahkan diri menjadi penginjil atau tidak. Lima tahun sebelum itu saya sudah menyerahkan diri. Waktu itu saya berumur 12 tahun, dan berkata “Seumur hidup saya mau menjadi hamba-Mu, dan tugas utamaku adalah memberitakan Injil di dalam sejarah manusia untuk memenangkan jiwa kembali ke Kerajaan Tuhan”. Lima tahun kemudian, secara perlahan saya mulai tertarik oleh Komunisme, Atheisme, Evolusionisme, Dialektika Materialisme, dan filsafat-filsafat yang paling modern, dimana sebaya saya banyak yang tidak tertarik. Saya sangat tertarik dan mulai terkontaminasi. Dan akhirnya, saya mulai membuang iman Kristen.

Saat itu ada seorang pendeta yang unik datang ke Indonesia. Pendeta itu seumur hidupnya memanggil orang menjadi hamba Tuhan. Saya menghadiri retreat yang dipimpin oleh Pendeta tersebut untuk menyenangkan hati mama saya. Hari itu menjadi pergumulan paling berat selama tujuh belas tahun saya hidup di dunia. Meskipun khotbah Pendeta itu menyentuh, namun iman Kristen sudah saya buang. Hanya mama saya, yang sejak saya berumur tiga tahun telah menjadi janda, tetap setia mendoakan saya. Apakah saya harus kembali kepada iman yang menurut saya saat itu sudah kuno, sudah digugurkan oleh ilmu, sudah ditolak oleh orang modern. Saya tidak berani dan malu berdoa di kamar, karena banyak orang ikut camp. Maka saya berlutut di kamar mandi, diatas ubin yang basah. Saya berdoa, “Tuhan kalau malam ini ternyata Engkau hidup, panggil saya dengan kuasa-Mu. Jika saya tidak sanggup melawan-Mu, maka saya akan seumur hidup setia sampai mati. Jikalau tidak ada panggilan jelas dan ternyata Engkau tidak bicara pada saya, saya akan lolos dan seumur hidup tidak lagi mengenal Engkau”. Dengan air mata saya bergumul kepada Tuhan. Lalu malam itu saya ikut kebaktian. Ada peserta yang bicara, tertawa, namun saya diam, tenang dan serius. Saya mau melihat bagaimana Tuhan bekerja. Kursi seperti lebih keras dari biasa, suasana lebih dingin dari biasa, waktu lewat lebih pelan dari biasa. Atheismekah atau Theisme?, Pagankah atau Christian?, Komunismekah atau Kristen?, Evolusikah atau Creation? Ini adalah saat penentu. Disatu sisi ada orang-orang Kristen yang mencintai Tuhan, yang hidupnya sangat saya kagumi. Disisi lain, fakta mengenai filsafat-filsafat mutakhir juga tidak bisa saya tolak.

Pendeta yang berkhotbah bagi saya berteriak-teriak mewakili teriakan terakhir sebelum Kristen mati. Teriakan yang mewakili status sebagai antek-antek Imperialisme yang merampas kebebasan manusia berpikir dan mempelopori racun barat untuk membuka jalan bagi meriam Imperialisme. Dengan mata yang miring saya melihat dia dan dengan sikap pertarungan dalam hati untuk menentukan nasib saya seumur hidup. Khotbah hari itu adalah mengenai lima suara,

Suara pertama adalah suara Allah Bapa. “Siapa yang boleh aku utus”, Firman-Nya. Lalu jawaban dari Yesaya, “disini saya, utuslah saya”. Jawaban dari Tuhan Allah, “Saya akan mengirim engkau untuk memberitakan Firman yang tidak diterima oleh orang lain. Saya akan mengirim engkau pergi kepada bangsa-bangsa yang keras hati”. Wah ini paradoks sekali, tetapi kelihatan ada makna tertentu yang saya perlu pelajari lagi.

Suara kedua adalah suara Anak Allah yang berkata “Tuaian sudah masak, pergilah menuai sebelum waktu lewat dan pergi ke seluruh dunia kabarkan Injil jadikan segala bangsa muridku”. ini suara dari pada anak Allah,

Suara ketiga adalah suara ROH KUDUS diambil dari wahyu, mengenai barang siapa yang rela meminum air hidup akan diperanakkan pula, karena Injil adalah kuasa Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Suara keempat adalah suara Rasul. “Jikalau aku tidak mengabar Injil, celakalah aku”, kata Paulus. karena beban ini sudah diberikan kepada aku dan jika aku dengan rela mengerjakannya ada pahala bagiku, rela, terpaksa, terpaksa, rela, aku harus rela memaksa diriku untuk melayani Injil atau aku harus memaksa diri untuk rela melayani?, ini paradoks lagi.

Suara kelima adalah suara dari Neraka. ini yang membuat saya sangat terkejut. Saya tidak pernah mendengar ada suara pekabaran Injil dari neraka. Siapapun pendeta tidak mengkhotbahkan dari neraka ada orang memanggil manusia mengabar Injil. Dia mengambil ayat dari Lukas 16. Abraham disuruh mengirim orang pergi memberitakan Injil kepada saudara orang kaya yang dihukum, supaya mereka tidak datang ke neraka. Abraham mengatakan bahwa hal itu tidak bisa. Yang kaya mengatakan kalau Abraham meminta lazarus yang pergi, mereka akan percaya. Ini adalah strategi penginjilan dari neraka. Saran neraka, suara neraka, strategi neraka pakai mujizat orang akan percaya. Sekarang di dalam Kekristenan ada dua arus. Yang menekankan Firman dalam penginjilan, dan yang menekankan mujizat. Banyak pendeta sudah jatuh dalam takhyul, tanpa pakai mujizat tidak akan ada orang yang menerima Firman Tuhan. Abraham diminta kirim Lazarus, kalau kirim Billy Graham percuma, mereka tidak ada mujizat. Kalau Lazarus yang berkhotbah karena dia sudah bangkit daripada kematian, maka lima saudaraku menjadi percaya. Saran ini terlihat amat bagus, namun bukan strategi Tuhan. Kesulitan sekarang adalah pemimpin gereja tidak peka lagi strategi dari Tuhan. Ide yang disarankan dari neraka ditolak oleh Abraham, karena sudah ada Firman dalam dunia. Dialog berhenti, diskusi strategi antara neraka dan surga berhenti disitu, Alkitab tidak meneruskan lagi. Lalu kita melihat selama 2000 tahun penginjilan dilakukan ke seluruh dunia, melalui apa? Strategi sorga atau nereka?

Mujizat terbesar adalah melalui percaya kepada YESUS KRISTUS, orang berdosa bertobat, orang yang mati rohani dapat hidup kembali dan menjadi anak Tuhan yang jujur dan setia. Setelah mendengar khotbah itu, ROH KUDUS bekerja dalam hati saya. Saya mulai bereaksi. Man is not what he thinks, man is not what he feels, man is not what he behaves, itu semua psikologi dunia yang kosong. Man is equal to what he reacts before God. You will be counted in eternity as what you react to God, when you’re living in this earth. Saya harus bagaimana bereaksi kepada Tuhan, akhirnya dapat suatu suara yang sangat dahsyat dalam hati. Kalau engkau tidak mengabarkan injil, maka engkau lebih kalah dari orang di dalam neraka, orang yang jatuh di dalam neraka masih mengharapkan saudaranya diselamatkan. Meskipun strateginya salah, tetapi keinginan mereka supaya saudara sekandung mereka diselamatkan lebih besar cinta daripada engkau yang tidak mengabarkan injil. Teguran yang dahsyat ini membuat saya sadar, dan akhirnya air mata mengalir terus, sampai pakaian depan semua basah kuyup. Saya berkata Tuhan ,” Hari ini saya janji, seumur hidup menjadi hamba-Mu, mengabarkan Injil, dan setelah Tuhan menjawab semua pertanyaan saya, mengenai Evolusi, mengenai Atheisme, Dialektical Materialisme, Komunisme, saya akan ke seluruh dunia menjawab pertanyaan, kesulitan yang menghambat orang lain menjadi orang Kristen. Apologetika yang melayani penginjilan,dan teologi Reformed yang solid, menjadi satu senjata di dalam tangan saya untuk pergi menjelajah.

Sekarang sudah 51 tahun saya sudah pernah berkhotbah kepada kira-kira 30 juta manusia di dalam lebih dari pada 29 ribu kali kebaktian. Menjelajah kira-kira 600 kota di dalam 51 tahun. Dalam usia 68, saya masih naik kapal terbang satu tahun 300 kali, berkhotbah 500 kali, dan diantaranya kira-kira 40 hari minggu di Indonesia, negara yang saya cintai. Bagaimana beratpun, tetap harus menginjili. Kekristenan harus malu, karena bioskop mainkan cerita fiksi, namun tiap hari terus main. Gereja yang menyatakan kebenaran, tidak tiap hari mengabar Injil. Kepada Tuhan kita menyembah , kepada sesama saling mengasihi, kepada dunia kita menginjili. Jikalau gereja tidak menginjili lagi, maka fungsi eksistensinya berhenti dalam dunia ini. Itu sebabnya gerakan Reformed Injili diadakan, untuk memberitakan Firman yang berbobot, berkualitas, dan yang setia kepada Alkitab ke dalam, serta mengabarkan Injil yang murni dan setia keluar.

Apakah hari ini kita masih berbeban untuk penginjilan? Waktu di London tahun 1977, saya melihat satu iklan di muka sebuah bioskop mengenai pertunjukan berjudul JESUS CHRIST superstar. Tertulis dibawahnya sudah tahun ketujuh, tiap hari dipentaskan. Satu tahun 365 hari, tujuh tahun berturut-turut melawan YESUS dengan nama JESUS CHRIST superstar. Pementasan yang memfitnah YESUS adalah homoseks, maka semua muridnya laki-laki. Akhirnya seorang murid yang paling cinta pada Dia dan tidak berhasil mendapat cinta-Nya, menjual Dia dengan 30 uang perak. Film yang begitu rusak, yang demikian memfitnah Kekristenan, bisa main selama tujuh tahun dan tiap hari ada penonton. Adakah gereja yang berani mengatakan JESUS CHRIST is the true saviour of the Lord, setiap hari mengabarkan injil selama tujuh tahun?

Kita harus sedih, karena gereja yang mengabarkan Injil murni, YESUS Juru selamat, KRISTUS penanggung dosa, khotbah seperti ini sudah hampir hilang. Diganti dengan siapa percaya Tuhan akan mendapat mujizat, saya percaya Tuhan akan mendapatkan kesembuhan, saya percaya Tuhan akan menjadi kaya. Ini adalah teologi sukses, teologi berhasil, teologi makmur yang merajalela. Sedang teologi salib, teologi kebangkitan, teologi KRISTUS menjalankan hukuman mengganti manusia sudah hilang. Kita masih berani menamakan diri Kristen, pengikut KRISTUS, orang Injili, Alkitabiah.

Begitu banyak pemuda pemudi yang kita panggil, kemudian mereka mulai mengabarkan Injil. Namun setelah lulus dari sekolah teologi mereka menjadi tidak mengabarkan Injil. Saya sudah teriak ini di benua-benua yang lain berapa besar hukuman yang akan ditimpakan pada rektor-rektor dan dosen-dosen Teologi yang menjadikan orang yang suka mengabarkan Injil setelah belajar empat tahun menjadi tidak suka mengabarkan Injil, jangan melarikan diri dari teguran seperti ini karena orang yang menegur seperti ini, seperti apa yang kamu dengar hari ini sudah semakin sedikit. Kita mengutamakan yang bukan diutamakan oleh Tuhan, dan kita tidak mengutamakan yang diutamakan oleh Tuhan.

Saya harap dalam sepuluh tahun Jakarta bertambah tiga ribu gereja. Dan satu gereja kalau ada seribu orang, tiga ribu gereja baru tiga juta, sedangkan PBB menghitung Indonesia, ibukotanya setiap tahun paling sedikit tujuh ratus – satu juta manusia tambahnya, di dalam sepuluh tahun Indonesia dengan ibukota yang kira-kira lima belas juta manusia, sampai dua puluh juta manusia, berarti orang yang tambah di Jakarta sampai 2025 bisa tiga puluh juta, kalau sepuluh tahun tambah tiga juta, kita masih hutang, tetapi pendeta-pendeta di gereja tidak hitung, mereka hanya hitung di gereja saya dulu tiga ratus sekarang lima ratus. Puji Tuhan, berarti sudah bertumbuh. Pertumbuhan itu dihitung persentasi berarti itu membuktikan kita masih belum mengerti kehendak Tuhan. Kita melihat, kalau bankir-bankir melihat perkembangannya mengikut pasaran berapa persen dia tahu, tapi pemimpin Kristen tidak sadar. Pendeta- pendeta menggembalakan satu juta orang Kristen di Indonesia, sudah dua puluh tahun, seluruhnya digabung tambah dua ratus ribu sudah senang, tapi penduduk tambah sepuluh juta. Yang menginjil tidak banyak, pertumbuhan makin merosot, inikah Kekristenan? Penginjilan yang dilakukan oleh saya sekarang mungkin mendapat tantangan lebih banyak, karena saya sudah mendirikan gereja. Namun dukungan tidak pernah dari manusia, dukungan selalu dari Tuhan. KKR yang saya pimpin tidak pernah menaruh alamat gereja saya, tak pernah umumkan kebaktian saya, karena penginjilan adalah untuk sekota. Dan setelah selesai, masing-masing bebas pergi kemana saja, karena penginjilan bukan bermotivasi menambah anggota saya. Kita menginjili zaman kita, kota kita, bukan untuk mempekembangkan diri kita.

Saudara-saudara saya harap selama saya masih hidup, boleh terus memberitakan YESUS KRISTUS sungguh-sungguh Juru Selamat. Dia betul-betul Anak Allah, yang diwahyukan dan dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama. Dia yang menggenapi semua janji bagi umat manusia, dan satu-satunya penanggung dosa manusia. Dia satu-satunya yang mati bukan karena dosa sendiri, namun untuk menanggung dosa manusia. Dia satu-satunya yang bangkit daripada orang mati, karena kuasa-Nya melampaui kuasa maut dan kuasa dosa. Selain Dia, tidak ada juru selamat yang lain. Terakhir kali kita mengadakan KKR di Stadion Utama adalah tahun 2003. Saya mengundang Bapak Agus Lai menjadi ketua. Saat itu saya ditegur oleh Tuhan, karena sebelumnya dua kali tema KKR saya adalah “Apakah ini makna hidupku?” dan sebagainya. Akhirnya suatu teguran dari Tuhan, kenapa tidak berani langsung katakan YESUS Juru selamat? Kenapa engkau harus pakai cara supaya menarik lebih banyak orang?, maka tahun 2003 saya mengatakan, temanya adalah “YESUS KRISTUS Juruselamat Dunia”. Saudara-saudara, biar Injil dikabarkan, saya hanya mau kita berdoa bersama, supaya kehendak Tuhan yang jadi, nama-Nya dipermuliakan, kerajaan-Nya tiba, kehendak-Nya terjadi, karena semua kuasa, kerajaan dan kemuliaan hanya dimiliki oleh Tuhan. Amin.

Ditranskrip dari sharing visi Pdt. Stephen Tong dengan para tokoh Kristen
Selengkapnya...

Berhentilah Mengeluh…


Coba renungkan penyampaian ini sebelum Anda mulai mengeluhkan berbagai hal yang terjadi dalam hidup Anda…
01]. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
02]. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makanan yang Anda santap,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
03]. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
04]. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
05]. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
06]. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidup Anda,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
07]. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anak Anda
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
08]. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
09]. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10]. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaan Anda,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11]. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,
12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika Anda sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Anda masih hidup !
a. Life is a gift
b. Live it…
c. Enjoy it…
d. Celebrate it…
e. And fulfill it.
13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,,,
16]. It’s true you don’t know what you’ve got until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve been missing until it arrives!!!
Jadi……..berhentilah mengeluh, hadapilah manis pahitnya hidup dengan bersyukur terhadap semua yang telah Tuhan berikan….
Selengkapnya...

Nama Kristiani (Alkitabiah) dan Maknanya


Kelahiran seorang bayi selalu menjadi moment sukacita yang tak terlukiskan dalam setiap keluarga Kristiani. Sudah menjadi tradisi bahwa menjelang kelahiran bayi, para calon orang tua sibuk mencari nama “Kristiani” atau nama “Alkitabiah” yang dianggapnya terbaik, terindah untuk sang calon bayi. Salah satu rujukan dalam pencarian nama tersebut biasanya adalah Alkitab.

Memang Alkitab dipenuhi dengan banyak tokoh yang luar biasa dipakai Tuhan dalam kehidupannya. Para orang tua biasanya berharap bahwa anaknya akan mempunyai jiwa atau semangat yang sama dengan yang dimiliki tokoh Alkitab yang namanya dipakai untuk nama bayi mereka. Sebab itu, tidak heran apabila dalam kebanyakan nama bayi-bayi Kristiani, nama pertama mereka biasanya bersumber dari nama tokoh tertentu dalam Alkitab.

Demikian juga dalam peristiwa baptisan air. Pada gereja-gereja tertentu, ada tradisi memberikan “nama baptis” bagi jemaat yang dibaptis. Pada umumnya, nama baptis tersebut diambil dari nama tokoh tertentu di Alkitab. Apakah tujuan pemberian nama baptis tersebut? Tujuannya adalah agar jemaat tersebut kehidupannya dapat menjadi seperti tokoh tersebut, yaitu mempunyai kehidupan yang baik, kudus dan mempermuliakan nama TUHAN. Penggunaan nama Kristiani atau nama Alkitabiah telah menjadi tradisi yang panjang dalam sejarah gereja di dunia.

Darimanakah tradisi memberikan “nama Kristiani” tersebut berasal?

Nampaknya ada satu contoh teladan di Alkitab berkaitan dengan hal itu. Yaitu, suatu peristiwa ketika Allah memberikan nama “baru” bagi Yakub, yaitu “Israel”. Nama “Israel” itu sendiri berasal dari akar kata Ibrani “lisrot = wrestle” dan “El = God”.

Firman Tuhan mengisahkan:

Kejadian 32:28
“Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang“

Nama “Yakub” berasal dari kata Ibrani “Akev” yang artinya adalah “heel” atau ‘pemegang tumit’. Artinya bila Yakub ingin memiliki sesuatu dia harus memegang tumit orang lain terlebih dahulu, atau menipu dulu baru dia bisa memiliki sesuatu yang diinginkan seperti yang pernah dia lakukan terhadap Esau.

Oleh sebab itu namanya berubah menjadi Israel artinya ‘Allah menang, Pangeran Allah’. Dan untuk mendapatkan nama Israel ini tidaklah mudah sebab ia terlebih dahulu harus bergumul dengan Malaikat hingga fajar pagi di Pniel. Tentunya perubahan nama ini bukan hanya sekedar iseng saja. Berubahnya Yakub menjadi Israel sebenarnya memiliki tujuan ilahi di dalamnya. Sebab pada akhirnya nama Israel ini dijadikan nama satu bangsa pilihan oleh Allah. Dan memang akhirnya Israel mendapatkan berkat-berkatnya dari Allah sesuai dengan janji-Nya.

Dalam masyarakat tertentu, ada pandangan bahwa nama mempunyai “kuasa” tertentu. Sebagai contoh:
Sebut saja ada seorang anak yang sejak lahirnya diberi nama Tony. Saat mulai menginjak remaja, ia sakit-sakitan bahkan hampir mati. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan kedua orang tuanya agar anak tersebut bisa sembuh. Ketika akhirnya sembuh, kedua orang tuanya mengganti nama anak tersebut menjadi Santoso, dengan harapan anak tersebut sehat senantiasa. Dan setelah dewasa, anak tersebut menambah namanya dengan nama “Petrus”, sehingga menjadi Petrus Santoso, dengan tujuan ia akan menjadi orang yang kuat bagaikan batu karang dalam menghadapi tantangan hidup.

Sebagai kesimpulan, nampaknya nama seseorang mewakili kepribadian seseorang. Meskipun memang tidak selalu demikian pada kenyataannya. Sebab bisa saja seseorang bernama “Paulus”, namun dia ternyata seorang koruptor mad0261


Nama yang bersumber dari Alkitab dan maknanya
(kumpulan nama bayi Kristen/nama Alkitab):

Abigail
Makna: sumber sukacita

Abraham
Makna: the father of a multitude (bapa dari banyak orang/bangsa)

Adam
Makna: Manusia

Amos
Makna:burden (beban)
(nama seorang nabi yang menulis kitab Amos)

Andrew/Andreas
Manliness (kejantanan)

Alexander
Makna: Defender of men or brave (pejuang pembela atau pemberani)
Markus 15:21; KPR 4:6

Angela
Berasal dari kata Yunani “Angelos”.
Makna: Messenger of God (utusan Allah)

Azariah
Makna: yang ditolong Tuhan

Bathsheba / Batsyeba
Makna: daughter of the oath (anak sumpah/perjanjian)

Benjamin/Benyamin
Makna: son of my right hand

Boaz
Makna: strength (kekuatan)

Caleb
Makna: dog (anjing)

Chloe
Makna: Greenery (tumbuhan hijau)
Chloe was a Christian woman of Corinth who informed Paul of the disputes within the local church (1 Corinthians 1:11).

Crystal
Makna: Ice, rock (es, batu)

Damaris
Makna: a heifer (sapi muda)
She was an Athenian woman who was converted to Christianity by Paul the apostle: “However, some men joined him and believed, among them Dionysius the Areopagite, a woman named Damaris, and others with them.” (Acts 17:34)

Daniel
Makna: God is my judge (Allah adalah hakimku)

Darius
Makna: he who upholds the good (dia yang menegakkan kebaikan)
He was a governor of Persia during Daniels ministry.

David/Daud
Makna: Hero (pahlawan)

Deborah
Makna: bee (lebah/tawon)
Before there were kings there were judges which she was. She was also known as a prophetess who helped Barak defeat the Canaanites.

Eleazer
Makna: God has helped (Allah telah menolong)

Eli
Makna: uplifted (ditinggikan)
He was Israel first high priest after they had crossed the river Jordan.

Eliezer
Makna: help of God (pertolongan dari Allah)

Elijah / Elia
Makna: my Lord is Jehovah (Yehova adalah Tuhanku)

Elisha/Elisa
Makna: God is salvation (Allah adalah keselamatan/penyelamat)

Elizabeth/Elisabeth
Makna: Sumpah/janji Allah

Enoch/Henokh
Makna: mengabdi

Esau
Makna: hairy (berbulu)

Esther/Ester
Makna: star (bintang)

Eve/Hawa
Makna: life (kehidupan)

Ezekiel/Yehezkiel
Makna: the strength of God (kekuatan Allah)

Ezra
Makna: help (pertolongan)

Felix
Makna: Prosperous (makmur)
He was a high ranking Roman official that had been appointed to office by the emperor Claudius. Felix was an evil and cruel ruler. He was the one who placed the apostle Paul in prison for two years.

Festus
Makna: Joyful (bersukacita/bergembira)
He was known as “Porcius Festus” and he was the one who succeeded Felix, when it came to ruling over the province of Judea. Festus was immediately placed in the middle of the conflict between Paul and the Sanhedrin. After Festus had reviewed the case against Paul, he decided that this was more of a religious matter, than it was a political one, and so therefore, sent the apostle to be tried before the Sanhedrin instead of the Roman tribunal.

Gabriel
Makna: Warrior of God (Ksatria Allah)
This was the name of an angel that was sent down to explain Daniel’s vision of the ram and the he- goat. This angel also told Daniel about the meaning of the “seventy weeks period.” This same angel; also did the birth announcements of John the Baptist and the Messiah — JESUS CHRIST.

Gideon
Makna: Hewer or lumberjack (penebang pohon)
He was one of the twelve Judges who looked over Israel. He was also commissioned by God to defeat the Midianites. Perhaps one of the most memorable events in the Bible is where he defeated 135,000 Midiante troops with just 300 men with the help from the Lord.

Hannah
Makna: Grace (anugerah)

Hazael
Makna: God sees (Allah melihat)
He was anointed king over Aram (Syria) by the prophet Elijah. Because of their sins, God would allow the Syrian king to be the oppressor over Israel for quite some time.

Hezekiah/Hizkia
Makna: Strength of God (Kekuatan Allah)
He was the son of Ahaz king of Judah, who became a king himself. He was perhaps the second most successful king (southern) Judah ever had, Josiah was by far the most successful.

Hosea
Makna: Salvation (keselamatan)
He was a prophet that God used in Israel, around 770-725 B.C. He is also the author of the book “Hosea.”

Immanuel or Emmanuel
Makna: God with us (Allah beserta kita)
Is the name of our precious Saviour JESUS CHRIST. He came down as an living example on how we should live our lives within His awesome creation. He took on the burden of our sins and paid the price for our redemption. He rose on the third day after his death and came back in his new resurrected body proving to us that there is spiritual life after physical death. He is the true promised Messiah and the only way to our eternal salvation.

Isaac/Ishak
Makna: Laughter (tertawa)
He was the first born unto Abraham who was offered up as a brunt sacrifice unto God. This was because God decided to test Abraham faith, by asking him to sacrifice his one and only son that he had with Sarah, who up to that point could not bear children.

Isaiah/Yesaya
Makna: God’s Salvation (Keselamatan dari Allah)
He was a prophet of the Southern Kingdom of Judah. His ministry was during the reigns of kings Uzziah, Jotham, Ahaz, and Hezekiah. He was eventually executed by king Manasseh, by being sawed in half. Isaiah was a great prophet and the author of the Book of Isaiah, Life of Uzziah, and the Book of the Kings of Israel and Judah.

Ishmael/Ismael
Makna: God hears (Allah mendengar)
He was the oldest son of Abraham and Hagar. He would later be thrown out with his mother because of the conflict they were having with Sarah and Isaac. He would later become the founder of the Arabian tribes.

Israel
Makna: Prince of God (Pangeran Allah)

Jacob/Yakub
Makna: Deceiver / heel catcher (penipu/penangkap tumit)

Japheth/Yafet
Makna: he enlarges/expansion (perluasan/pengembangan)

Jehoshaphat/Yosafat
Makna: God has judged (Allah telah mengadili)

Jephthah/Yefta
Makna: to be set free (dibebaskan)
He was the son of Gilead and a mighty warrior. However, his mother was a prostitute so therefore he was illegitimate. His half-brothers would drive him away from his homeland because of it when he got older. He would make a great reputation for himself while he settled in the land of Tob. He would later become a Judge over Israel in which he led them for six years.

Jeremiah/Yeremia
Makna: whom the Lord has appointed (yang dipilih Tuhan)
He was a prophet would ministry would last for over forty years. He would gain the reputation of being called the, ‘weeping prophet,’ and he was the author of the Biblical books – Jeremiah & Lamentations.

Jesse/Isai
Makna: I Possess (saya memiliki)
He was the father of eight sons with one of them being David. The Lord would instruct the prophet Samuel to go to Bethlehem and anoint the next king of Israel. His journey would lead him to the house of Jesse.

John/Yohanes
Makna: Jehovah is a gracious giver (TUHAN adalah pemberi yang murah hati)

Jonah/Yunus
Makna: Dove (burung merpati)
Jonah was one of the prophets of Israel. He was thrown from a ship into the sea and swallowed by a shark. He prayed in its belly for three days and nights and was regurgitated unharmed. He authored the book of Jonah.

Joshua/Yosua
Makna: Jehovah is salvation (TUHAN juru selamat)

Joseph/Yusuf
Makna: Jehovah has added (Yehova/TUHAN telah menambahkan)

Judah/Yehuda
Makna: praise (pujian)

Julia
Makna: Soft-haired (berambut lembut)
Roma 16:15

Leah/Lea
Makna: Weary, tired (lelah/letih/bosan).
daughter of Laban, first wife of Jacob, and mother of Reuben, Simeon, Levi, Judah, Issachar, Zebulun, and Dinah

Levi/Lewi
Makna: joined (bergabung)

Luke/Lukas
Makna: Bringer of light, morning (pembawa terang, pagi)

Manasseh/Manasye
Makna: forgetting (lupa)

Mark/Markus
Makna: a defense (pembelaan)
An evangelist, the author of the Gospel of Mark. Marcus was his Latin surname, his Jewish name was John. He was a cousin of Barnabas and a companion of Paul in some of his missionary journeys.

Martha
Makna: Mistress (nyonya rumah)

Mary/Maria
Makna: Rebellion, overthrow (pemberontakan, menggulingkan)
Many women bear the name Mary in the Bible. Mary was the mother of JESUS CHRIST, who was conceived within her by the Holy Spirit when she was a virgin. She was married to the carpenter Joseph. Mary of Bethany was the sister of Martha and Lazarus. Mary Magdalene and Mary the wife of Cleopas were two of the women who supported the ministry of JESUS CHRIST both spiritually and materially. Mary the mother of John Mark was one of the earliest disciples of JESUS.

Matthew/Matius
Makna: gift of Jehovah (hadiah dari TUHAN)
Son of Alphaeus, one of the 12 disciples

Micah/Mikha
Makna: Who is like the Lord (siapakah yang seperti TUHAN)
He was a prophet during the days of, Jotham, Ahaz, and Hezekiah. He came from the town of Moresheth Gath, and was the only prophet who had foretold the birthplace of the true Messiah — (JESUS CHRIST)

Michal/Mikhal
Makna: Who is like God (siapakah yang seperti Allah)
She was the youngest daughter of the first king of Israel, Saul. He would hand her over to David after had had killed the Philistine giant, Goliath. She would become David’s first wife.

Musa/Moses
Makna: drawing out (of a water), ditarik keluar dari air.
Nabi besar dalam sejarah Israel dan beberapa agama

Naphtali/Naftali
Makna: wrestling (bergulat)
Was one of the tribal founders to the twelve tribes of Israel. He was the son of Jacob and Bilhah (Rachel’s handmaiden). He would be Bilhah’s second and Jacob’s sixth.

Nathan/Natan
Makna: Given by God (diberikan oleh Allah)

Obadiah/Obaja
Makna: servant of Jehovah (Pelayan TUHAN)
The 4th of the 12 minor prophets; nothing personal is known of him but it is probable that he was contemporary with Jeremiah, Ezekiel, and Daniel. The prophetic book by him; prophesies against Edom.

Oliver
Makna: The olive tree (pohon zaitun)

Paul/Paulus
Makna: small or little (kecil)

Rachel/Rahel
Makna: a sheep (domba)
Was the youngest daughter to Laban and a shepherdess. Her father used her to trick the patriarch Jacob into working an additional seven years for the rights to marry her. She was the mother to two of the founders that made up the twelve tribes of Israel (Joseph – Benjamin).

Reuben/Ruben
Makna: see, a son (melihat, anak laki-laki)

Rebecca/Ribka
Makna: Captivating, beautiful (yang menawan, cantik)

Ruth/Rut
Makna: Friend (sahabat)
Ruth was the wife of Mahlon and the daughter-in-law of Naomi. After her husband’s death she married Boaz and gave birth to Obed, the grandfather of King David. Her story is told in the Book of Ruth in the Old Testament.

Samuel
Makna: God heard (Allah mendengar)
Hannah had asked him of Jehovah, she gave him the name, “the God-heard,” as a memorial of the hearing of her prayer.

Sarah
Makna: princess of a multitude (Putri orang banyak)
She was once called Sarai. She also became the wife to the patriarch Abraham. She was the mother of Ishmael (patriarch to the Arabian nation) and Isaac (patriarch to the Israel nation).

Saul
Makna: loaned (meminjamkan)
He was the son of the Benjamite Kish, who would become Israel’s first king during the days of Samuel the prophet. He was tall, handsome and was without equal. God would instruct the prophet to anoint him king over his people, for He had heard their cry.

Silas
Makna: Wood, from the forest (kayu dari hutan)

Simeon
Makna: one who hears (orang yang mendengar)
Was one of the tribal founders to the twelve tribes of Israel. He was the second oldest son to Jacob and Leah. He avenges the rape of his sister Dinah along with his brother Levi by attacking the predators which were called the Shechemites.

Trinity
Makna: Three (tiga)
Trinity is a word used by Christians to express the doctrine of the unity of God as consisting of three distinct Persons, Father, Son and Holy Spirit. The word trinity is not found in the Bible, and was first used in this context by Theophilus.

Zebulun/Zebulon
Makna: exalted (mulia/agung)

Zipora
Makna: Bird (burung)
daughter of Reuel or Jethro, wife of Moses, and mother of Gershom and Eliezer.


Referensi:

Brown-Driver-Briggs’s Hebrew definitions

Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries

Thayer’s Greek Definitions

http://www.biblical-baby-names.com

http://christianity.about.com/od/christianbabynames
Selengkapnya...